Sabtu, 16 November 2019

QALA'I, PEDANG RASULULLAH SAW YANG BERASAL DARI NUSANTARA

QALA'I, PEDANG RASULULLAH SAW YANG BERASAL DARI NUSANTARA

Bangsa Arab dan Nusantara sebenarnya sudah lama saling berhubungan dalam perdagangan internasional. Bahkan tercatat sejak sebelum tahun seribu Masehi keduanya sudah saling berhubungan. Selain rempah-rempah, ada satu komoditas yang cukup penting dalam percaturan perdagangan internasional pada masa itu, yakni senjata tradisional.

SQ Fatimi sempat merekam perdagangan senjata Arab-Nusantara dalam papernya yang berjudul Malaysian Weapons in Arabic Literature. Namun karena beberapa hal, peristiwa ini tak terekam secara meluas dalam khazanah historiografi Nusantara.

***

Dalam Tarikhul Muluk wal Umam, Thabari sempat merekam kejadian berikut:

“Ketika menaklukkan Bani Qainuqa’, Rasul saw mendapatkan tiga pedang: pedang Battar, pedang Qala’i, dan pedang Hatf.”

Memperkuat hal ini, Mubarak Ibnul Atsir mencatat dalam an-Nihayah bahwa Nabi saw pernah bersabda:

وأسيافنا قلعية

“Pedangku berjenis Qala’i.”

Pedang Nabi saw memang ada banyak. Selain Zulfikar yang masyhur itu, ada beberapa pedang lain yang beliau miliki. Seperti pedang Rasub, Ma’tsur, Qadhib dan lain-lain. Namun kita fokuskan pembahasan kali ini pada pedang Qala’i.

Pedang Qala’i memang sangat masyhur dalam kesusasteraan Arab. Abu ‘Ali al-Qali merekam dalam majelisnya yang kemudian dibukukan menjadi Al-Amali bahwa Gubernur Basra Mujasyi’ bin Mas’ud pernah membuat sayembara gulat dengan hadiah pedang Qala’i, di samping juga sejumlah uang, kuda, dan budak yang ahli membuat roti. Sayembara ini kemudian dimenangkan oleh ‘Amr bin Ma’dikarib. Ia pun mendapat pedang Qala’i.

Tak heran jika penyair-penyair Arab kuno mengagumi kualitas pedang yang terbuat dari timah ini. Bahkan Nuwairi dalam magnum opus-nya yang berjudul Nihayatul Irbi merekam satu peribahasa bagus:

إن السيف متى قُلِّعَ بالهند وطبع باليمن فناهيك به

“Jika pedangmu sudah di-qala’i-kan di Hind dan dibuat di Yaman, maka lengkap sudah hidupmu.”

Qulli’a bil Hind?

Di-qala’i-kan di Hind?

Hind? Hmm..

Dalam tarikh Arab, Hind memang cukup fenomenal dalam urusan senjata. Kemasyhuran pedang Muhannad (مُهَنَّد, secara harfiah berarti di-Hind-kan) adalah satu bukti tentang kualitas pedang “Hind”. Namun dalam pembahasan Qala’i kali ini, manakah yang dimaksud Hind tempat asal pedang Qala’i milik Nabi ini?

Beruntungnya, Qazwini dalam Atsarul Bilad memberitahu kita tentang asal-usul pedang Qala’i dari catatan seorang utusan Dinasti Samaniyah yang pergi menuju Tiongkok pada tahun 942. Utusan itu bernama Mus’ir bin Muhalhil. Ketika menjelaskan sebuah kota bernama Kalah (كله, di masa kini dikenal dengan nama Klang di Malaysia) di Selat Malaka dekat Sumatera, Qazwini mengutip catatan Mus’ir:

“Kota Kalah adalah tempat dibuatnya pedang Qala’i. Pedang Qala’i adalah pedang luar biasa dari Hind. Kota Kalah adalah satu-satunya tempat di dunia dimana pedang Qala’i dibuat.”

Jadi nama pedang Qala’i merupakan arabisasi dari nama kota Kalah. Mengenai lokasi Kota Kalah, catatan tua dari Sulaiman dari Siraf tentang Kerajaan Zabag memberi kita sebuah gambaran yang cukup bagus:

“Di antara kota kekuasaan Maharaja Zabag adalah Kota Kalah. Sebuah kota yang tepat berada di tengah Arab dan Cina. Kota Kalah memiliki luas 80 farsakh. Dan kota ini memiliki banyak komoditas, di antaranya adalah gaharu, kamper, cendana, gading, dan timah khas Kalah (raśāś al-qala’ī).”

Timah Kota Kalah (bandingkan kata Kalah dengan nama-nama kota berawalan Kuala seperti Kuala Namu atau Kuala Lumpur) memang sangat terkenal di masa itu. Salah satu hadis di Sahih Bukhari menyebut adanya tombak berjenis ānuk yang digunakan para Sahabat Nabi saw. Tombak ini ditafsiri oleh Ibnul Jauzi—sebagaimana dikutip Ibnu Hajar—sebagai tombak timah dari Kalah (min ar-raśāś al-qala’i). Jadi timah dari Nusantara kualitasnya sangat terkenal masa itu.

Maka bisa disimpulkan bahwa pedang Qala’i milik Rasul saw adalah pedang yang berasal dari Kota Kalah yang pada abad ketujuh berada dalam genggaman Maharaja Sriwijaya (Zabag). Wallahu a’lam.

Kholili Kholil
Alif.id

Nama-nama IMAM dalam QIRO'AH SAB'AH

Nama-nama IMAM  dalam QIRO'AH SAB'AH adalah sebagai berikut :

1. IMAM NAFI' BIN NA'IM(... -169H) 

Nama lengkapnya adalah Abu Ruwaim Nafi’ ibnu Abdurrahman ibnu Abi Na’im al-Laitsy, asalnya dari Isfahan. Dengan kemangkatan Nafi’ berakhirlah kepemimpinan para qari di Madinah al-Munawwarah. Beliau wafat pada tahun 169 H. 

Perawi-perawinya yang termasyhur ialah QOLUN Abu Musa ‘Isa bin Mina dan WAROSY Abu Sa’id Utsman bin Sa’id.

2.IMAM IBNU KATSIR(... -120H) 

Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Abdullah Ibnu Katsir ad-Dary al-Makky, ia adalah imam dalam hal qira’аt di Makkah, ia adalah seorang tabi’іn yang pernah hidup bersama shahabat Abdullah ibnu Jubair. Abu Ayyub al-Anshari dan Anas ibnu Malik, dia wafat di Makkah pada tahun 120 H. 

Perawi-perawinya yang termasyhur ialah AL BAZZY Abdul Hasan Hamid bin Muhammad dan QUNBUL Abu Umar Muhammad

3.IMAM ABU 'AMR(68H-154H)

Nama lengkapnya adalah Abu ‘Amr Zabban ibnul ‘Ala’ ibnu Ammar al-Bashry, sorang guru besar pada rawi. Disebut juga sebagai namanya dengan Yahya, menurut sebagian orang nama Abu Amr itu nama panggilannya. Beliau wafat di Kufah pada tahun 154 H.

Perawi-perawinya yang termasyhur ialah AD DUURY dan AS SUSY Abu Syu’aib Shaleh bin Ziyad.

4. ABDULLAH BIN 'AMIR(21 H-118 H) 

Nama lengkapnya adalah Abdullah al-Yahshshuby seorang qadhi di Damaskus pada masa pemerintahan Walid ibnu Abdul Malik. Panggilannya adalah Abu Imran. Dia adalah seorang tabi’іn, belajar qira’аt dari Al-Mughirah ibnu Abi Syihab al-Mahzumy dari Utsman bin Affan dari Rasulullah SAW. Beliau Wafat di Damaskus pada tahun 118 H. 

Perawi-perawinya yang termasyhur ialah HISYAM dan IBNU DZAKWAN.

5.IMAM 'ASHIM AL KUFY(...-127 H)

Nama lengkapnya adalah ‘Ashim ibnu Abi аn-Nujud al-Asady. Disebut juga dengan Ibnu Bahdalah. Panggilannya adalah Abu Bakar, ia adalah seorang tabi’іn yang wafat pada sekitar tahun 127-128 H di Kufah. 

Perawi-perawinya yang termasyhur ialah Abu Bakar SYU'BAH bin Ilyas dan Imam HAFS bin Sulaiman.

6.IMAM HAMZAH AL KUFY(80 H-154 H)

Nama lengkapnya adalah Hamzah Ibnu Habib Ibnu ‘Imarah az-Zayyat al-Fardhi ath-Thaimy seorang bekas hamba ‘Ikrimah ibnu Rabi’ аt-Taimy, dipanggil dengan Ibnu ‘Imarh, wafat di Hawan pada masa Khalifah Abu Ja’far al-Manshur tahun 156 H. 

Perawi-perawinya yang termasyhur ialah Abu Muhammad KHOLAF bin Sisyam dan Abu ‘Isa Khalid bin KHOLAD.

7.IMAM ALI AL KISAIY(...-189 H)

Nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Hamzah, seorang imam nahwu golongan Kufah. Dipanggil dengan nama Abul Hasan, menurut sebagiam orang disebut dengan nama Kisaiy karena memakai kisa pada waktu ihram. Beliau wafat di Ranbawiyyah yaitu sebuah desa di Negeri Roy ketika ia dalam perjalanan ke Khurasan bersama ar-Rasyid pada tahun 189 H. 

Perawi-perawinya yang termasyhur ialah ABUL HARITS Al-Laits bin Khalid dan HAFS ADDURY.

**********

Bacaan Al-qur’an yang banyak diikuti dan berlaku di berbagai Negara, Hususnya (Indonesia) adalah bacaan dengan mengikuti Qiro’ah Riwayat Imam HAFS BIN SULAIMAN bin Mughiroh al Bazzar Al Kufy (Lahir 90 H. - wafat tahun 180 H) dari Imam ‘ASHIM BIN ABIN NADUUD (wafat tahun 128 H) yang bacaannya disebut Qiro’ah Masyhuroh.
Karena Keberkahan Beliau (IMAM HAFS) yang telah Hatam Alqur'an dihadapan seorang Guru (Imam 'Ashim) sebanyak hitungan ayat Alqur'an 6.666 kali Hataman.

#SantriMbelinxsID
#TheSarungersSquad

KH.AHSIN SAKHO MUHAMMAD, PAKAR QIRO'AH SAB'AH INDONESIA

KH.AHSIN SAKHO MUHAMMAD, PAKAR QIRO'AH SAB'AH INDONESIA

KH Ahsin Sakho Muhammad, ia adalah seorang pakar ilmu yang langka: ilmu-ilmu Al-Qur'an. Dia lulus sebagai doktor dari sebuah universitas di Madinah dengan cumlaude, beliau adalah seorang pengasuh Pondok Pesantren Dar Al Qur’an dan sebagai Dewan Penasehat Pondok Pesantren Dar Al Tauhid di Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, untuk mencetak para penghafal Al-Qur'an dan para generasi qur’ani.

Bagaimana perasaan Anda jika di malam hari yang gelap, dalam perjalanan melewati gurun yang tandus, sepi bahkan kosong, kendaraan Anda tiba-tiba mogok? Takut, tegang, cemas, tentu menyelimuti perasaan Anda. Bagaimana pula jika tak lama kemudian ada orang yang menolong, membawa Anda dan mobil Anda ke bengkel tanpa mengharapkan apa-apa? Tentu, tak terbayangkan perasaan Anda: lega dan gembira.

Itu hanya salah satu dari sekian banyak kemudahan yang dialami oleh Kiai Ahsin. Dari berbagai pengalaman hidupnya, ia semakin meyakini, pertolongan Allah akan hadir bagi mereka yang senantiasa menjaga hubungan dengan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

“Barangsiapa yang selalu mengingat Allah dalam keadaan senang, Allah akan mengingatnya ketika ia dalam keadaan susah,” ujarnya mengutip sebuah hadits.

Setiap Ahad pagi ia menyelenggarakan pengajian qiraat warasy, yang diikuti para guru Al-Qur'an dari wilayah Cirebon dan sekitarnya. Sebelumnya, materi yang diberikan mencakup semua qiraat mutawatir yang dikenal sebagai qiraat sab`ah. Tetapi karena dipandang terlalu berat, dan menyulitkan mereka yang belum memiliki bekal yang memadai, pengajian ini lalu difokuskan pada salah satu qiraat saja. Dan itu adalah qiraat warasy.

Di masa sekarang, model pengajian yang memberikan materi pendalaman berbagai macam qiraat seperti ini terbilang langka. Mereka yang berminat mempelajarinya pun tidak banyak. Padahal, materi ini sangat dibutuhkan dalam rangka menjaga cara membaca Al-Qur'an yang tepat. Karena itu, para peserta merasakan manfaatnya – yang kemudian mereka kembangkan di tempat masing-masing.

Berkembangnya pengajian mengenai qiraat dan pendalaman ilmu-ilmu Al-Qur'an merupakan salah satu obsesinya yang terus diupayakan secara serius. Menurutnya, menjaga kemurnian Al-Qur'an merupakan tugas mulia. Segala sesuatu yang dapat merusak atau setidaknya mengganggu kemurnian Al-Qur'an harus dicegah. Karenanya, peredaran buku-buku Yasin Fadhilah yang cara penulisannya tidak membedakan mana bagian yang merupakan ayat Al-Qur'an dan mana yang bukan, dikecamnya.

Rektor IIQ

”Mestinya Yasin Fadhilah seperti itu ditarik dari peredaran, kemudian direvisi. Penerbit selama ini sembrono mencampuradukkan dan menyamakan ayat Al-Qur'an dan doa. Seharusnya dibedakan penulisannya, agar jelas mana yang Al-Qur'an dan mana yang bukan,” katanya.

Menyinggung metode pengajaran Al-Qur'an, menurutnya selama ini sudah berjalan baik. Selain itu, banyak pesantren yang membuka program menghafal Al-Qur'an. Kelemahannya, para santri berhenti hanya pada menghafal Al-Qur'an, tidak berusaha mengembangkan kemampuannya dengan mendalami ilmu Al-Qur'an, termasuk berbagai qiraatnya.

Dia memang pakar dalam bidang qiraat dan ilmu-ilmu Al-Qur'an. Itu sebabnya ia lalu diserahi berbagai tugas penting. Sejak 2 November 2005, ia menjabat rektor Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ), Jakarta, perguruan tinggi yang mencetak para ahli Al-Qur'an. Posisi ini sebelumnya diduduki tokoh-tokoh yang terkenal pakar di bidang ilmu-ilmu Al-Qur'an, seperti Prof. KH Ali Yafie (2001-2005), sementara rektor sejak IIQ berdiri adalah Prof. KH Ibrahim Hosen (1977-2001).

Bukan itu saja tugas yang diemban pria yang tenang, santun, dan ramah ini. Kini ia juga dipercaya sebagai ketua Tim Revisi Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an Departemen Agama, yang beranggotakan beberapa pakar ilmu Al-Qur'an, seperti Prof. Dr. Hj Huzaimah T. Yanggo, Prof. Dr. H Hamdani Anwar, Prof. H Ali Mustafa Ya’qub (almarhum), Dr. Hj Faizah Ali Syibromalisi, dan beberapa pakar lain. Tim ini telah bekerja sejak 2004 dan diperkirakan akan menuntaskan tugas mereka pada 2007.

Keahliannya dalam ilmu Al-Qur'an membawa berkah tersendiri. Selama beberapa tahun belakangan, setiap Ramadhan ia diundang ke Inggris untuk menjadi imam shalat Tarawih di London dan kota-kota lainnya. Meski begitu ia tetap tinggal bersama keluarga di Cirebon. Setiap minggu ia bolak-balik Jakarta-Cirebon. Senin sampai Kamis ia di Jakarta, hari-hari lain ia habiskan di Cirebon untuk mengajar di pesantren.

Putra pasangan KH Muhammad dan Nyi Umi Salamah ini dilahirkan di Arjawinangun, Cirebon, pada 21 Februari 1956. Sejak kecil ia telah menunjukkan bakatnya dalam ilmu-ilmu Al-Qur'an. Ketika masih duduk di kelas IV SD dan belum lagi dikhitan, ia telah hafal tiga juz Al-Qur'an, yakni juz 28, 29, dan 30. Karena itu kakeknya dari pihak ibu, KH Syathori, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Arjawinangun, sangat menyayanginya.

Lingkungan Religius

”Ketika saya dikhitan, beliau yang mengurusi semuanya. Saya juga diberi pakaian yang berbeda dari yang lain. Beliau memang sangat berkeinginan, di antara anak-anak atau cucu-cucunya banyak yang hafal Al-Qur'an. Karena itu, bila ada cucu yang datang dan mencium tangannya, selalu ditepuk-tepuk dadanya sambil berucap.

‘Nanti, di sini ada Al-Qur'an, ada hadits, ada Alfiyah (salah satu kitab standar ilmu nahwu)’,” tuturnya mengenang sang kakek.

Meskipun tak sempat mengalami masa dewasa sebagian besar cucu-cucunya, apa yang diidam-idamkan oleh sang kakek akhirnya menjadi kenyataan. Ahsin dan ketiga saudara perempuannya, semuanya hafal Al-Qur'an. Sedang empat saudara laki-lakinya hafal beberapa surah Al-Qur'an. Ketika kakeknya wafat, Ahsin masih duduk di bangku SMP.

Saat sang kakek masih hidup, Ahsin sering menemaninya mengimami shalat berjamaah. Terkadang ia juga ikut mendengarkan apabila kakeknya membacakan kitab di pengajiannya. “Hanya nguping, seperti anak-anak yang lain,” ujarnya.

Meski demikian, ia mendapat banyak hal penting dari kehidupan keseharian sang kakek, seorang ulama yang di masa hidupnya sangat disegani dan dihormati. Menurutnya, sang kakek berjasa menciptakan lingkungan yang religius, yang mencintai ilmu dan ulama. Kakeknya seorang penyabar, mempunyai perhatian pada para santri, dan hampir tidak pernah marah.

Menurutnya resep menghafal Al-Qur'an ialah doa orang tua yang benar-benar sangat mengharapkan anaknya dapat menghafal Al-Qur'an. Orang tua yang demikian niscaya akan selalu bermohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Tentu doa yang demikian kemungkinan diterimanya lebih besar. Karena itu langkah si anak selanjutnya untuk mewujudkan harapan orangtua akan lebih mudah. Selain itu harus ada usaha yang maksimal ketika membimbing anak untuk menghafalkannya.

Ayah lima anak ini menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD dan SMP Arjawinangun. Sedangkan dasar-dasar ilmu agama ia pelajari di pesantren milik keluarganya. Selama tiga tahun sejak 1970 ia melanjutkan pelajaran di Pesantren Lirboyo, Kediri, sambil belajar di SMU. Sejak lama, Pesantren Lirboyo memang didominasi oleh para santri asal Cirebon dan sekitarnya.

Di pesantren terkemuka itu ia belajar fiqh dan ilmu-ilmu alat, seperti nahwu, sharaf, dan sebagainya. Sementara di saat libur panjang ia menimba ilmu di pesantren lain. Antara lain, ia pernah mengaji tabarruk kepada KH Umar Abdul Manan (Solo) dengan menyetorkan hafalan-hafalan Al-Qur'annya. Meski tidak lama belajar kepadanya, tidak sampai dua bulan, ia merasa sangat beruntung, karena bisa memperoleh syahadah sanad dari sang guru.

Pondok Pesantren Krapyak

“Tidak semua orang – termasuk para santri yang sudah lama belajar kepada beliau – yang bisa mendapatkannya,” ujarnya. Sertifikat sanad dari Kiai Umar memang sangat didambakan. Dengan sertifikat itu terjaminlah bacaan yang benar, bagus, dan fasih. Juga menunjukkan bobot intelektualitas dan tanggung jawab sebagai seorang hafizh Al-Qur'an.

Keinginanannya yang kuat untuk mendalami Al-Qur'an membawanya meneruskan belajar di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta (1973- 1976). Ia juga sempat belajar kepada KH Arwani (Kudus). Tetapi ketika baru berjalan sekitar dua bulan, ia diminta pulang ke Cirebon untuk menyiapkan keberangkatannya ke Makkah.

“Meski demikian, bagi seorang santri, sesingkat apa pun masa belajarnya, ia harus bisa menyerap berbagai ilmu, termasuk akhlk dan keteladanan gurunya,” katanya.

Bulan Agustus 1976 menandai era baru dalam hidupnya. Ia berangkat ke Arab Saudi untuk mendalami ilmu-ilmu agama sebagaimana cita-cita orang tuanya. Mula-mula ia belajar di Makkah. Sekitar satu tahun, 1976-1977, ia mengaji Al-Quran di Masjidil Haram di bawah bimbingan Syekh Abdullah Al-`Arabi, seorang Mesir yang didatangkan oleh Jamaah Tahfizh Al-Quran. Di Masjidil Haram memang banyak kegiatan, salah satunya dikoordinasikan oleh lembaga tersebut

Ketika itu yang memimpin lembaga tersebut ialah Syekh Shalih Al-Qazzaz, mantan sekjen Rabithah `Alam Islami. Yang juga banyak berperan di lembaga ini ialah Syekh Ibrahim Sa`d, seorang Mesir yang mengatur metode menghafal Al-Quran. Masa itu merupakan kebangkitan Tahfizhul-Qur’an di Arab Saudi. Hal ini tidak terlepas dari partisipasi para masyaikh qurra’ (guru-guru para pembaca Al-Quran) yang berasal dari Mesir, baik di Makkah, Jeddah, Madinah, maupun yang lainnya.

Pengajian di Masjidil Haram ia ikuti pagi hari, sedang sore harinya ia menuntut ilmu di Markaz Ta`lim al-Lughah al-`Arabiyyah. Karena sudah hafal Al-Qur'an, ketika belajar ia hanya “menyetor” hafalan dan mendalami bacaannya. Di akhir tahun, ia mengikuti ujian dan lulus, mendapat syahadah yang menyatakan bahwa yang bersangkutan dapat membaca Al-Qur'an secara hafalan dari awal hingga akhir.

Menulis Tahqiq

Pada 1977 ia berangkat ke Madinah al-Munawarah untuk mengikuti kuliah di Fakultas Kulliyatul-Qur’an wa Dirasah Islamiyyah dari Al-Jami`ah Al-Islamiyah. Di situ ia tak mengalami kesulitan berarti, semua berjalan lancar tanpa hambatan. Apalagi ia mendapat beasiswa 200 Dollar atau 775 Real per bulan. Pemberian beasiswa itu, selain sebagai penghargaan bagi mereka yang mempelajari dan menghafal Al-Qur'an, juga untuk memotivasi para mahasiswa yang kuliah di fakultas tersebut.

Selepas menamatkan pendidikan kesarjanaan, ia melanjutkan ke program pascasarjana di universitas yang sama mengambil Jurusan Tafsir dan Ilmu Al-Qur'an, selesai pada 1987 dengan tesis Sejarah Perkembangan Ulumul Qur’an. Sedang untuk disertasi ia menulis tahqiq (menulis dan meneliti kembali) kitab At-Taqrib wal-Bayan fi Ma`rifati Syawadzil-Qur’an karya Ash-Shafrawi, ulama asal Iskandariyah, Mesir, kelahiran 636 H/1216 M.

Dan akhirnya ia meraih gelar doktor dengan yudisium Mumtaz Syaraful ‘Ula (cumlaude) pada 1989. Praktis selama 12 tahun, sejak 1977, ia menghabiskan masa mudanya di Jam’iyyah Al-Islamiyyah, Madinah. Di antara teman dari tanah air yang belajar di sana tapi beda angkatan adalah Hidayat Nur Wahid dan Salim Seggaf Al-Jufri. Usai belajar di Madinah, ia kembali mengajar di Pondok Pesantren Darut Tauhid, Cirebon, yang diasuh oleh pamannya, KH Ibnu Ubaidillah.

Penguasaannya yang mendalam tentang ilmu-ilmu Al-Qur'an menarik perhatian banyak kalangan. Maka pada 1992, ia diajak oleh KH Syukron Makmun, pengasuh Pondok Pesantren Darul Rahman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk ikut mendirikan Institut Islam Darul Rahman. Pada tahun itu juga ia mengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) dan di Institut Agama Islam Negeri (kini Universitas Islam Negeri, UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Beberapa tahun kemudian ia diangkat sebagai pengajar tetap di IAIN hingga kini.

Di tengah kesibukannya mengajar, baik di Cirebon, Jakarta, maupun di luar negeri, ia masih berusaha untuk merampungkan buku tentang ilmu-ilmu Al-Qur'an, sebagai salah satu syarat untuk pengangkatannya sebagai guru besar.

”Sudah selesai saya tulis, tinggal dibukukan,” ujarnya. Kita tunggulah terbitnya buku penting karya pakar Al-Qur'an ini.

(daraltauhid.com/Abdullah Alawi)

KEMASYHURAN QIROAT IMAM ASHIM RIWAYAT HAFS ...

KEMASYHURAN QIROAT IMAM ASHIM RIWAYAT HAFS ...

JALAN SYATHIBIYAH (Bagian I)...

Dalam Ilmu Qira’at ada sepuluh Imam Qira’at yang sangat masyhur, bacaan mereka disepakati oleh Ulama Qira’at sebagai bacaan yang mutawatir, artinya bacaan yang betul-betul asli berasal dari nabi Muhammad dari malaikat Jibril dari Allah.

Sepuluh Imam Qira’aat tersebut ialah :

1. Nafi’ bin Abi Nu’aim al-Ashbihani.
2. Ibn Katsir, Abdullah bin Katsir al-Makki.
3. Abu ‘Amr , Zaban bin al-‘Ala’.
4. Ibn ‘Amir Abdullah bin ‘Amir as-Syami.
5. ’Ashim bin Abi an-Najud.
6. Hamzah bin Habib az-Zayyat.
7. Kisa’i Ali bin Hamzah.
8. Abu Ja’far, Yazid bin al-Qa’qa’.
9. Ya’qub al-Hadlrami dan
10. Khalaf al-bazzar (al-Bazzaz).

Setiap Imam tersebut mempunyai banyak murid. Di antara mereka ada murid kenamaan yang sangat mahir meriwayatkan bacaan Al-Qur’an dari imam-imam mereka atau murid-muridnya.
 
Dalam perjalanan waktu, dan karena seleksi ilmiah dan alamiah, muncul nama-nama yang akhirnya dijadikan sebagai referensi yang sangat valid dan sangat dipercaya sebagai bacaan yang merefleksikan bacaan Imam-Imam qira’at sebagaimana di atas.
Mereka yang disebut sebagai para perawi dari Imam-Imam sepuluh adalah :

1. Nafi’ kedua perawinya : Qalun dan Warsy.
2. Ibn Katsir : al-Bazzi dan Qunbul.
3. Abu ‘Amr : ad-Duri dan as-Susi.
4. Ibn ‘Amir : Hisyam dan Ibn Dzakwan.
5. ‘Ashim: Syu’bah dan Hafsh.
6. Hamzah : Khalaf dan Khallad.
7. Al-Kisa’I : Abu al-Harits dan ad-Duri al-Kisa’i.
8. Abu Ja’far : Ibn Jammaz dan Ibn Wardan.
9. Ya’qub : Rauh dan Ruwais.
10. Khalaf : Ishaq dan Idris. 
 
Yang akan kita bicarakan disini adalah Imam Hafsh perawi utama Imam ‘Ashim. Riwayat Hidup Imam Hafsh. Namanya Hafsh bin Sulaiman bin al-Mughirah, Abu Umar bin Abi Dawud al-Asadi al-Kufi al-Ghadliri al-Bazzaz. Beliau lahir pada tahun 90 H. Pada masa mudanya beliau belajar langsung kepada Imam ‘Ashim yang juga menjadi bapak tirinya sendiri. Hafsh tidak cukup mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali tapi dia mengkhatamkan Al-Qur’an hingga beberapa kali, sehingga Hafsh sangat mahir dengan Qira’at ‘Ashim.

 Sangatlah beralasan jika Yahya bin Ma’in mengatakan bahwa : “riwayat yang sahih dari Imam ‘Ashim adalah riwayatnya Hafsh”. Abu Hasyim ar-Rifa’I juga mengatakan bahwa Hafsh adalah orang yang paling mengetahui bacaan Imam ‘Ashim. Imam adz-Dzahabi memberikan penilaian yang sama bahwa dalam penguasaan materi Qira’at, Hafsh adalah merupakan seorang yang tsiqah (terpercaya) dan tsabt (mantap).
 
Sebenarnya Imam ‘Ashim juga mempunyai murid-murid kenamaan lainnya, salah satu dari mereka yang akhirnya menjadi perawi yang masyhur adalah Syu’bah Abu bakar bin al-‘Ayyasy. Hanya saja para ulama lebih banyak mengunggulkan Hafsh daripada Syu’bah. Imam Ibn al-Jazari dalam kitabnya “Ghayah an-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra’ ” tidak menyebutkan guru-guru Hafsh kecuali Imam ‘Ashim saja. Sementara murid-murid beliau tidak terhitung banyaknya, mengingat beliau mengajarkan Al-Qur’an dalam rentang waktu yang demikian lama. 

Di antara murid-murid Hafsh adalah : Husein bin Muhammad al-Murudzi, Hamzah bin Qasim al-Ahwal, Sulaiman bin Dawud az-Zahrani, Hamd bin Abi Utsman ad-Daqqaq, al-‘Abbas bin al-Fadl ash-Shaffar, Abdurrahman bin Muhamad bin Waqid, Muhammad bin al-fadl Zarqan, ‘Amr bin ash-Shabbah, Ubaid bin ash-Shabbah, Hubairah bin Muhammad at-Tammar, Abu Syu’aib al-Qawwas, al-Fadl bin Yahya bin Syahi, al-Husain bin Ali al-Ju’fi, Ahmad bin Jubair al-Inthaqi dan lain-lain.
 
Hafsh memang seorang yang menghabiskan umurnya untuk berkhidmah kepada Al-Qur’an. Setelah puas menimba ilmu Qira’at kepada Imam ‘Ashim, beliau berkelana ke beberapa negeri antara lain Baghdad yang merupakan Ibukota negara pada saat itu. Kemudian dilanjutkan pergi menuju ke Mekah. Pada kedua tempat tersebut, Hafsh mendarmabaktikan ilmunya dengan mengajarkan ilmu Qira’at khususnya riwayat ‘Ashim kepada penduduk kedua negeri tersebut.
 
Bisa dibayangkan berapa jumlah murid di kedua tempat itu yang menimba ilmu dari beliau. Jika kemudian riwayat Hafsh bisa melebar ke seantero negeri, hal tersebut tidaklah aneh mengingat kedua negeri tersebut adalah pusat keislaman pada saat itu. Sanad Bacaan Hafsh. Sanad ( runtutan periwayatan) Imam Hafsh dari Imam ‘Ashim berujung kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. 

Sementara bacaan Syu’bah bermuara kepada sahabat Abdullah bin Mas’ud. Hal tersebut dikemukakan sendiri oleh Hafsh ketika beliau mengemukakan kepada Imam ‘Ashim, kenapa bacaan Syu’bah banyak berbeda dengan bacaannya ? padahal keduanya berguru kepada Imam yang sama yaitu ‘Ashim. Lalu ‘Ashim menceritakan tentang runtutan sanad kedua rawi tersebut. Runtutan riwayat Hafsh adalah demikian: Hafsh - ‘Ashim - Abu Abdurrahman as-Sulami- Ali bin Abi Thalib. Sementara runtutan periwayatan Syu’bah adalah demikian: Syu’bah- Ashim- Zirr bin Hubaisy-Abdullah bin Mas’ud. Penyebaran Qira’at di Negeri-Negeri Islam.
 
Pada saat ini Qira’at yang masih hidup di tengah-tengah umat Islam di seluruh dunia tinggal beberapa saja, yaitu : 1. Bacaan Imam Nafi’ melalui riwayat Qalun masih digunakan oleh masyarakat Libia dan Tunisia pada umumnya. Sementara riwayat Warsy masih digunakan oleh masyarakat di Afrika Utara (al-Maghrib al-‘Arabi) seperti Aljazair, Maroko, Mauritania. Sedangkan masyarakat di Sudan masih menggunakan empat riwayat yaitu : Qalun, Warsy, ad-Duri Abu ‘Amr, dan Hafsh. 2. Bacaan riwayat ad-Duri Abu ‘Amr masih banyak digunakan oleh kaum Muslimin di Somalia, Sudan, Chad, Nigeria, dan Afrika tengah secara umum.
 
Pada waktu-waktu yang lalu riwayat ad-Duri juga digunakan oleh orang Yaman. Hal itu terbukti bahwa Tafsir Fath al-Qadir karya asy-Syaukani tulisan Al-Qur’annya mengikuti riwayat ad-Duri. Adanya riwayat ad-Duri di Yaman barangkali rembesan dari Sudan. Mengingat hubungan kedua negera tersebut telah terjalin sejak dahulu. 3. Bacaan Al-Qur’an riwayat Hafsh dari ‘Ashim adalah bacaan yang paling banyak tersebar 

>
>
>

 KEMASYHURAN QIRA'AT 
'ASHIM RIWAYAT HAFS 
DI DUNIA ISLAM (Bagian II)

Mengingat masih hidupnya beberapa bacaan melalui riwayat tersebut di atas, pemerintah Saudi Arabia melalui Mujamma’ Malik Fahd bin Abdul Aziz, telah mencetak beberapa Mushaf Al-Qur’an dengan lima riwayat yaitu : Hafsh, Qalun, Warsy, ad-Duri dan terakhir adalah Syu’bah. Latar Belakang Penyebaran Qira’at di Dunia Islam.

Sebagaimana diketahui bahwa pada masa sahabat Umar bin Khaththab, banyak negeri-negeri di Irak dan Syam jatuh ke tangan kaum Muslimin. Banyak permintaan dari kaum Muslimin di negeri-negeri tersebut kepada sahabat Umar agar mengirimkan guru-guru Al-Qur’an ke negeri-negeri mereka. Maka sahabat Umar mengirimkan beberapa utusannya, antara lain adalah sahabat Ibnu Mas’ud diutus ke Kufah, Abu Musa al-Asy’ari diutus ke Basrah, Abu ad-Darda’ diutus ke Syam (Syiria). Bacaan mereka itulah yang akhirnya menyebar ke negeri negeri tersebut.
 
Pada masa sahabat Usman, terutama setelah penulisan ulang mushaf Al-Qur’an, sahabat Usman mengirimkan beberapa guru Al-Qur’an bersama dengan mushaf yang baru saja ditulis ke negeri-negeri Basrah, Kufah, dan Syam. Penduduk negeri-negeri tersebut berseteru tentang bacaan Al-Qur’an mereka pada saat perang di Azerbaijan dan Armenia di Uni Soviet.
 
Pada saat itu sahabat Usman mengutus al-Mughirah bin Abi Syihab al-Makhzumi ke Syam. Dari Syam lalu muncul seorang Qari’ terkenal yaitu Ibn ‘Amir. Ibn al-Jazari mengatakan bahwa bacaan penduduk negeri Syam sampai pada tahun 500 H, menggunakan Qira’at Ibn ‘Amir. Adapun di negeri Basrah di Iraq setelah masa Abu Musa al-Asy’ari muncullah beberapa Imam Qira’at. Di antara mereka adalah Imam Abu ‘Amr al-Bashri dan Ya’qub al-Hadlrami. Sampai pada tahun 200 H, masyarakat Basrah masih menggunakan Qira’at Abu ‘Amr al-Bashri. Kemudian mereka beralih ke Qira’at Ya’qub al-Hadlrami sampai abad ke 5 H sebelum akhirnya beralih ke riwayat Hafsh pada masa Turki Usmani.
 
Sementara di negeri Kufah dimana Abdullah bin Mas’ud dikirim untuk mereka, muncul banyak ahli Qira’at. Di antara mereka adalah Imam ‘Ashim. Lalu Imam ‘Ashim sebagaimana diutarakan di atas mengajarkan kepada murid-muridnya antara lain Hafsh dan Syu’bah. Keterkaitan penduduk Kufah dengan Abdullah bin Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib adalah sesuatu yang sangat wajar. Penduduk Kufah dalam sejarah perpolitikan adalah pengikut setia (syi’ah) Ali bin Abi Thalib. Sedangkan Ibn Mas’ud adalah orang pertama yang mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada penduduk Kufah. Sehingga mereka bangga dengan Ibn Mas’ud. Disamping bacaan Imam ‘Ashim, di Kufah juga tersebar bacaan Imam Hamzah, perawi Hamzah al-Kisa’i dan Khalaf. Tentang tersebarnya bacaan Hamzah, Ibn Mujahid berkata dalam kitabnya as-Sab’ah, ketika mengutip perkataan Muhammad bin al-Haitsam al-Muqri :
 
أدركت الكوفة ومسجدها الغالب عليه قراءة حمزة , ولا أعلمنى أدركت حلقة من حلق المسجد يقرءون بقراءة عاصم
 
Artinya : “aku menjumpai penduduk Kufah, bacaan yang dibaca di masjid-masjid mereka adalah bacaan Hamzah. Aku tidak menjumpai beberapa kelompok pengajian Al-Qur’an di masjid-masjid Kufah dengan bacaan Imam ‘Ashim.
 
Akan halnya bacaan al-Kisa’i, dalam banyak hal banyak persamaannya dengan bacaan Imam Hamzah terutama dalam bab Imalah. Ibn Mujahid dalam kitabnya “as-Sab’ah” yang ditulis sekitar tahun 300 H menjelaskan, bahwa bacaan Al-Qur’an pada negeri-negeri Islam adalah sebagai berikut : di Mekah dengan bacaan Ibn Katsir, di Madinah dengan bacaan Nafi’, di Basrah dengan bacaan Abu ‘Amr al-Bashri. Sementara di Kufah dengan bacaan ‘Ashim, Hamzah dan al-Kisa’i. Sementara itu Imam Makki al-Qaisi (w. 437 H) berkata tentang bacaan penduduk negeri-negeri Islam pada masa lalu:

وكان الناس على رأس المائتين بالبصرة على قراء ة أبى عمرو البصرى ويعقوب الحضرمى , وعلى أهل الكوفة قراءة حمزة وعاصم , وبالشام على قراءة ابن عامر , وبمكة على قراءة ابن كثير , وبالمدينة على قراءة نافع , واستمروا على ذلك . فلما كان على رأس الثلاث مئة اثبت ابن مجاهاد اسم الكسائى وحذف يعقوب

Artinya : pada permulaan tahun 200 H, masyarakat di Basrah mengikuti bacaan Abu ‘Amr al-Basri dan Ya’qub. Di Kufah mengikuti bacaan Hamzah dan ‘Ashim. Di Syam mengikuti bacaan Ibn ‘Amir. Di Madinah mengikuti bacaan Nafi’. Kemudian pada penghujung tahun 300 H, Ibn Mujahid memasang nama al-Kisa’i dan mengganti Ya’qub.
 
Tersebarnya Riwayat Hafsh. Banyak dibicarakan oleh komunitas Al-Qur’an baik di dunia Arab atau lainnya tentang penyebab tersebarnya riwayat Hafsh di dunia Islam. Sebagian kalangan mengatakan bahwa pemerintahan Turki Usmani (sekitar 922 H/1516 M) mempunyai peranan yang sangat signifikan dalam hal ini, yaitu melalui kekuatan politik kekuasaan.

 Sebagaimana diketahui bahwa pemerintahan Turki Usmani pada saat mencetak mushaf, mereka memilih bacaan riwayat Hafsh. Lalu mereka kembangkan bacaan riwayat ini ke seluruh negeri. Namun pendapat ini dibantah oleh Ghanim Qadduri al-Hamd. Dia mengatakan bahwa riwayat Hafsh sebenarnya telah menyebar di beberapa tempat. Kemudian Ghanim menyebutkan perkataan Abu Hayyan dalam tafsirnya “al-Bahr al-Muhith”: tentang riwayat Warsy dan ‘Ashim :
 
وهى (رواية ورش ) الرواية التى تنشأ عنها ببلادنا ( الأندلس ) ونتعلمها فى المكتب . وقال عن قراءة عاصم : وهى القراءة التى ينشأ عليها أهل العراق ) ( البحر 115/1(

Ghanim kemudian merujuk kepada perkataan Muhammad al-Mar’asyi yang hidup pada abad ke 12 H (w. 1150 H) yang disebut juga dengan Savhaqli Zadah: 

( والمأخوذ فى ديارنا ( عش مدينة فى جنوب تركيا الآن ) قراءة عاصم برواية حفص عنه ) 

Artinya : yang dijadikan patokan di negeri kami (Turki) adalah bacaan ‘Ashim riwayat Hafsh.
 
Dalam pandangan penulis ada beberapa penyebab tentang menyebarnya riwayat Hafsh. Ada yang berupa faktor alamiah yaitu riwayat tersebut mengalir dan menyebar dengan sendirinya seperti mengalirnya air sebagaimana juga tersebarnya madzhab-madzhab fikih, dan ada juga faktor ilmiah yaitu dilihat dari materi bacaan Hafsh itu sendiri. Secara garis besar bisa penulis ra

>
>
>

 KEMASYHURAN QIRA'AT 
'ASHIM RIWAYAT HAFS
 DI DUNIA ISLAM (Bagian 3 )

 1.Jika dilihat dari segi materi ilmiah, maka riwayat Hafsh adalah riwayat yang relatif mudah dibaca bagi orang yang non Arab mengingat beberapa hal :
 
Pertama : tidak banyak bacaan Imalah, kecuali pada kata : (مجراها ) pada surah Hud. Hal ini berbeda dengan bacaan Syu’bah, Hamzah, al-Kisa’i, Abu ‘Amr dan Warsy yang banyak membaca Imalah.

Kedua : tidak ada bacaan Shilah Mim Jama’ sebagaimana apa yang kita lihat pada bacaan Qalun dan Warsy. Bacaan Shilah membutuhkan kecermatan bagi pembaca, mengingat bacaan ini tidak ada tanda tertulisnya.

Ketiga : Dalam membaca Mad Muttashil dan Munfashil, bacaan riwayat Hafsh terutama thariq Syathibiyyah tidak terlalu panjang sebagaimana bacaan Warsy dan Hamzah yang membutuhkan nafas yang panjang. Bahkan dalam thariq Thayyibah, yaitu yang melalui jalur ‘Amr bin ash-Shabbah thariq Zar’an dan al-Fil bacaan Hafsh dalam Mad Munfashil bisa Qashr (2 harakat).

Keempat : dalam membaca Hamzah baik yang bertemu dalam satu kalimah atau pada dua kalimah, baik berharakat atau sukun, riwayat Hafsh cenderung membaca tahqiq yaitu membaca dengan tegas (syiddah) dengan tekanan suara dan nafas yang kuat, sehingga terkesan kasar. Hal ini berbeda dengan bacaan Nafi’ melalui riwayat Warsy, Qalun.
 
Bacaan Abu ‘Amr melalui riwayat ad-Duri dan as-Susi. Bacaan Ibn Katsir melalui riwayat al-Bazzi dan Qunbul yang banyak merubah bacaan Hamzah menjadi bacaan yang lunak. Contohnya adalah pada Hamzah sakinah atau jika ada dua Hamzah bertemu dalam satu kalimah atau dua kalimah. Imam Hafsh mempunyai bacaan tashil baina baina hanya pada satu tempat saja yaitu pada kalimat : ( ءأعجمى ) pada surah Fushshilat : 44. 

Kelima : Hafsh mempunyai bacaan Isymam hanya pada satu tempat yaitu pada kata : (لا تأمنا ) sebagaimana juga bacaan imam lainnya selain Abu Ja’far.

Keenam: Hafsh mempunyai bacaan Mad Shilah Qashirah hanya pada kalimat : (ويخلد فيه مهانا ) pada surah al-Furqan: 69. Hal ini berbeda dengan bacaan Ibn Katsir yang banyak membaca Shilah Ha’ Kinayah.

2.Jika dilihat dari awal kemunculan bacaan ‘Ashim yaitu di Kufah atau Iraq, secara politis, negeri Kufah (Iraq) adalah negerinya pengikut Ali (Syi’ah). Bacaan Hafsh juga bermuara kepada sahabat Ali. Kemudian Negeri Baghdad, dimana Hafsh pernah mengajar disini, adalah Ibukota negara (Abbasiyyah) pada masa itu, pusat kegiatan ilmiah, sehingga penyebarannya relatif lebih mudah.

Jika kemudian Hafsh bermukim di Mekah kiblat kaum Muslimin yang banyak dihuni mukimin dari berbagai penjuru dunia dan mengajar Al-Qur’an di sini, maka bisa dibayangkan pengaruh bacaannya. Penulis juga melihat adanya hubungan yang cukup signifikan antara madzhab fikih dan Qira’at. Sebagai contoh: riwayat Warsy adalah riwayat yang banyak diikuti oleh masyarakat di Afrika Utara. Di sana madzhab fikih yang banyak dianut adalah madzhab Maliki.

Masa hidup Imam Malik adalah sama dengan masa hidup Imam Nafi’. Keduanya di Madinah. Bisa jadi pada saat masyarakat Afrika Utara berkunjung ke Madinah untuk haji atau lainnya, mereka belajar fikih kepada Imam Malik dan belajar Qira’atnya kepada Imam Nafi’. Kita tahu bahwa Hafsh pernah bermukim dan mengajar Al-Qur’an di Mekah. Imam Syafi’i juga hidup di Mekah. Boleh jadi pada saat hidupnya kedua Imam tersebut kaum Muslimin memilih madzhab kedua Imam tersebut. Kemudian jika kita melihat sanad bacaan riwayat Hafsh pada guru-guru dari Indonesia, semisal sanad Kiai Munawwir Krapyak, akan kita jumpai banyak ulama madzhab Syafi’i pada sanad tersebut, seperti Zakariyya al-Anshari dan lain sebagainya.

3.Hafsh mempunyai jam mengajar yang demikian lama, sebagaimana dikatakan oleh Ibn al-Jazari sehingga murid-muridnya bertebaran di berbagai tempat. Hal ini berbeda dengan Syu’bah yang tidak begitu lama mengajar.

4.Hafsh dianggap sebagai perawi Imam ‘Ashim yang demikian piawai dan menguasai terhadap bacaan gurunya. Sebagaimana diketahui Hafsh adalah murid yang sangat setia pada ‘Ashim. Mengulang bacaan berkali-kali, dan menyebarkan bacaan ‘Ashim di beberapa negeri dalam rentang waktu yang demikian lama.

Makki al-Qaisi menyebutkan bahwa ‘Ashim mempunyai kefashihan membaca yang tinggi, validitas sanadnya juga sangat kuat dan para perawinya juga tsiqah (sangat dipercaya).

5.Ghanim Qadduri al-Hamd menyebutkan bahwa mushaf pertama yang di cetak di Hamburg (Jerman) pada tahun 1694 M/1106 H, diharakati dengan bacaan Hafsh yang ada di perpustakaan-perpustakaan di beberapa negeri Islam. Hal ini mempunyai banyak pengaruh pada masyarakat, dimana mereka menginginkan adanya mushaf yang sudah dicetak. Para penerbit mushaf di Hamburg sudah tentu melihat terlebih dahulu kecenderungan masyarakat Islam pada saat itu.

Bahkan Blacher, seorang orientalis yang cukup terkemuka dalam bidang studi Al-Qur’an pernah mengatakan :
 
 ( ان الجماعة الاسلامية لن تعترف فى المستقبل الا بقراءة حفص عن عاصم )

artinya : kaum Muslimin pada masa yang akan datang tidak akan menggunakan bacaan Al-Qur’an kecuali dengan riwayat Hafsh dari ‘Ashim.
Pernyataan Blacher yang pasti didahului oleh pengamatan yang seksama, jelas menggambarkan kecenderungan masyarakat di dunia Islam pada saat itu dan pada masa yang akan datang sehingga dia bisa memastikan hal tersebut.

6. Ghanim Qadduri juga menyebutkan dengan melansir dari kitab “Tarikh Al-Qur’an” karya Muhammad Thahir Kurdi, bahwa penulis mushaf yang sangat terkenal pada masa pemerintahan Turki Usmani, adalah al-Hafizh Usman (w. 1110 H).

Penulis ini sepanjang hidupnya telah menulis mushaf dengan tangannya sendiri, sebanyak 25 mushaf. Dari mushaf yang diterbitkan inilah riwayat Hafsh menyebar ke seantero negeri. Penulis melihat bagaimana hubungan antara keahlian menulis mushaf dengan khat yang indah bisa menjadi unsur yang cukup signifikan dalam penyebaran satu riwayat. Jika kemudian pemerintah Turki Usmani mencetak mushaf sendiri, dan menyebarkannya ke seantero negeri kekuasaannya, maka hal itu akan menambah pesatnya riwayat Hafsh.
Dari sini penulis melihat adanya hubungan antara kekuasaan politik dengan penyebaran satu ideologi tertentu. 

7.Peranan para qari’, guru, imam salat, dan radio, kaset, televisi, juga sangat berpengaruh terhadap penyebaran riwayat Hafsh. Kita tahu bahwa rekaman suara pertama di dunia Islam adalah suaranya Mahmud Khalil al-Hushari atas inisiatif dari Labib Sa’id sebagaimana diceritakannya sendiri pada kitabnya “ al-Mushaf al-Murattal atau al-Jam’ash Shauti al-Awwal”
 rekaman ini dengan riwayat Hafsh thariq asy-Syathibiyyah. Suara yang bagus melalui teknologi yang canggih ikut memengaruhi satu bacaan.

8.Lebih dari penyebab lahiriah dari penyebaran riwayat Hafsh, kita tidak boleh melupakan adanya penyebab “maknawiyyah” atau faktor “berkah” atau bisa kita katakan faktor “x” pada diri Hafsh. Unsur-unsur spiritual seperti kesalehan, keikhlasan, ketekunan, pengorbanan Hafsh dalam mengabdi kepada Al-Qur’an ikut menjadi penyebab tersebarnya satu riwayat bahkan madzhab fikih atau lainnya.
 
PENUTUP 

Riwayat Hafsh telah menjadi femomena tersendiri dalam penyebaran satu riwayat dalam Qira’at. Riwayat Hafsh akan terus melebar dan menyebar ke seantero dunia, bahkan ke negeri-negeri yang menggunakan riwayat lain seperti Warsy, Qalun, ad-Duri dan lain-lainnya, sesuai dengan hukum kemasyarakatan. 

Dengan semakin menyebarnya riwayat ini, kedudukan Al-Qur’an menjadi semakin kokoh, keorisinilan bacaan Al-Qur’an dan mushaf Al-Qur’an menjadi semakin meyakinkan.
Meredupnya riwayat lain bukan berarti meredupnya kemutawatiran satu bacaan. Bacaan-bacaan tersebut masih tetap mutawatir karena telah diakui oleh para imam-imam Qira’at terdahulu. Nabi sendiri tidak mewajibkan membaca Al-Qur’an dengan seluruh macam bacaan yang pernah diajarkannya kepada para sahabat-sahabatnya.
 
Tapi Nabi hanya menyuruh para sahabatnya untuk membaca bacaan yang mudah baginya. Dengan demikian Al-Qur’an akan tetap terjaga kemurniannya sampai akhir zaman nanti. Itu pertanda bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah. 

Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA 

#SantriMbelinxsID
#TheSarungerSquad

HUMOR GUS DUR:JEMBATAN SURGA DAN NERAKA

HUMOR GUS DUR:JEMBATAN SURGA DAN NERAKA

 Suatu hari di akhirat pengguni neraka dan penghuni surga melakukan musyawarah. Mereka sepakat ingin membangun jembatan yang menghubungkan surga dan neraka.

Apa fungsinya? Katanya, biar gampang silaturrahmi dan biar mudah saling mengunjungi antarpenghuni kedua tempat.

Walhasil, jembatan di neraka selesai terlebih dulu, sedangkan yang di  belum selesai. Jangankan jembatannya, rancangannya saja belum terpasang.

Penghuni neraka marah-marah ke penghuni surga.

“Hei penghuni surga cepet kerjain, jembatannya kita sudah selesai.”

Mendengar itu, penghuni surga lantas membalas,“Mas, bagaimana kita mau ngerjain jembatan,sedangkan pimpinan proyek, pemborong, sama menterinya kan disana semua.”
😆😆😆😆
************

Alfatihah..... 
#SantriMbelinxsID 
#Gusdurian
#NahdlotulUlama
#AhlussunnahWalJamaahAnnahdhiyyah

IJAZAH MBAH MOEN(KH.MAIMOEN ZUBAIR): WASILAH JODOH DI MAKAM NYAI HAMDANAH ASNAWI KUDUS

IJAZAH MBAH MOEN(KH.MAIMOEN ZUBAIR): WASILAH JODOH DI MAKAM NYAI HAMDANAH ASNAWI KUDUS

Salah satu ijazah yang diberikan KH Maimun Zubair bagi para jomblowan/wati dalam mencari jodoh adalah wasilah di Makam Nyai Hamdanah Asnawi Kudus. 

Siapa beliau?

Nyai Hamdanah merupakan istri dari KHR Asnawi Kudus (1861-1959) saat bermukim di Makkah. Menurut KH Minan Zuhri, Nyai Hamdanah merupakan janda dari Syekh Nawawi al-Bantani). Sepeninggal Syekh Nawawi, Nyai Hamdanah dinikahi KHR Asnawi setelah dijodohkan oleh KH Jalil.

Kisah dari ibu kandung saya (Masfiyah) yg pernah berjumpa langsung dengan Nyai Hamdanah saat diajak sowan ke rumah Bendan Kudus, memiliki wajah cantik, putih dan berhidung mancung. Istilah Ibu saya yg mirip orang Arab dan India cantiknya.

Dari pernikahan KHR Asnawi dengan Nyai Hamdanah melahirkan tiga anak: KH Zuhri (menurunkan 5 anak), Nyai Azizah (istri KH Sholeh Tayu menurunkan 5 anak) dan Nyai Alawiyah (menurunkan 6 orang anak).

Lalu apa yg harus dibaca saat wasilah?

Mestinya ya biasa dengan Yasin, tahlil dan do'a spesial mencari jodoh yang diridlai Allah.
Kalau teman saya tadi mengamalkan ijazah dari Kyai Chumaid Kaliwungu Kendal saat wasilah di makam Nyai Hamdanah, yaitu membaca Surat Al Ikhlas 313 kali dan shalawat 1.000 kali. 

Dimana makam Nyai Hamdanah?

Tepat berada di barat makam KHR Asnawi (belakang mihrab Masjid Al Aqsho Menara Kudus, satu komplek Makam Sunan Kudus).

M.Rikza Chamami

KEALIMAN IBLIS

KEALIMAN IBLIS

Jika engkau bertanya tentang AL QUR'AN kepada iblis... 
Maka Iblis akan bisa menerangkan dengan sangat jelas,
Karena Iblis tahu persis kapan ayat itu turun dari langit...

Jika engkau bertanya tentang ilmu hadist kepada Iblis,
Maka Iblis akan sangat pandai menjelaskannya,
Karena Iblis tahu Asbabul Wurud dari hadits tersebut....

Jika engkau bertanya tentang kisah para Nabi,
Iblis akan dengan tepat menceritakannya karena Iblis sudah ada sejak Nabi Adam AS masih berada dalam surga...

Iblis itu ahli AL QUR'AN.... 
Iblis itu ahli HADITS....
Iblis itu 
ahli riwayat.... 
Iblis itu alim/pandai dalam segala ilmu...

Tapi iblis tidak menjadi kekasih ALLAH, karena dalam diri iblis ada kalimat...

AKU LEBIH BAIK DARI KAMU

Semoga sedikit ilmu yg dititipkan Allah Subhana Wa Ta'alla dihati kita tidak menjadikan kita sombong dalam segala urusan...
Juga paham bahwa ilmu tak menjamin orang pasti ta'at dan sholeh.

Yang aku takut...
Hatiku kian mengeras dan sulit menerima nasehat, namun sangat pandai menasehati

Yang aku takut...
Aku merasa paling benar, sehingga merendahkan yang lain.

Yang aku takut...
Egoku terlalu tinggi, hingga merasa paling baik di antara yang lain.

Yang aku takut...
Aku lupa bercermin, namun sibuk berprasangka buruk kepada yang lain.

Yang aku takut...
Ilmuku akan membuatku menjadi sombong, memandang yang lain berbeda denganku.

Yang aku takut...
Lidahku makin lincah membicarakan aib orang lain, namun lupa dengan aibku yang menggunung dan tak sanggup kubenahi.

Yang aku takut...
Aku hanya hebat dalam berkata namun buruk dalam berbuat.

Yang aku takut...
Aku hanya cerdas dalam mengkritik, namun lemah dalam mengkoreksi diri sendiri.

Yang aku takut...
Aku membenci dosa orang lain, namun saat aku sendiri buat dosa aku enggan membencinya.

Kiranya Allah Subhana Wa Ta'alla
senantiasa menyadarkanku sehingga lebih rajin instrospeksi diri daripada mengurusi orang lain yang belum tentu perilaku dan tutur katanya lebih baik dari diriku. Aamiin...

Selalulah melihat ke dalam hati... 

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim...

#SantriMbelinxsID
#SelfReminder

TERJEMAHAN KITAB KASYIFATUS SAJA - SYARAH SAFINATUN NAJA

TERJEMAHAN KITAB KASYIFATUS SAJA  - SYARAH SAFINATUN NAJA | Pustaka Mampir Karya Syekh Muhammad Nawawi b...