Tampilkan postingan dengan label GUS BAHA'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GUS BAHA'. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Februari 2020

PROFIL GUS BAHA'

  

PROFIL GUS BAHA' 

KH. Baha’uddin Nursalim lahir terhadap tanggal 15 Maret 1977 di Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Kyai yang akrab dipanggil Gus Baha ini adalah putra seorang ulama’ pakar Qur’an KH. Nursalim Al-Hafizh dari Narukan, Kec. Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pada umur yang tetap sangat belia, Gus Baha’ sukses mengkhatamkan hafalan al-Qur’an beserta Qiro’ahnya bersama lisensi yang ketat dari ayahnya. Gemblengan keilmuan yang ayah beliau jalankan memanglah sesuai layaknya karakteristik murid-murid Mbah Arwani Kudus yang menerapkan keketatan di dalam tajwid dan makhorijul huruf terhadap setiap huruf al-Qur’an.

Riwayat pendidikan beliau, beliau hanya mengenyam pendidikan dari 2 pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di desa Narukan dan PP. Al Anwar Karangmangu. Pernah suatu kala ayahnya tawarkan kepada beliau untuk mondok di Rushoifah atau Yaman. Namun beliau lebih menentukan untuk tetap di Indonesia, berkhidmat kepada almamaternya Madrasah Ghozaliyah Syafi’iyyah PP. Al Anwar dan pesantrennya sendiri LP3IA.


Di Al Anwar inilah beliau muncul sangat menonjol di dalam fan-fan pengetahuan Syari’at layaknya Fiqih, Hadits dan Tafsir. Hal ini terbukti dari lebih dari satu amanat prestisius keilmiahan yang diemban oleh beliau sepanjang mondok di Al Anwar, layaknya Rois Fathul Mu’in dan Ketua Ma’arif di jajaran kepengurusan PP. Al Anwar. Saat mondok di Al Anwar ini pula beliau mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap bersama matan, rowi dan sanadnya. Selain Shohih Muslim beliau termasuk mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu’in dan kitab-kitab gramatika arab layaknya ‘Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Menurut Prof. Quraisy Syihab, Gus Baha merupakan Ulama yang memahami dan hafal detail-detail Al-Qur’an sampai detail-detail fiqh yang tersirat di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Tafsir Jalalain

Tafsir al Jalalain adalah sebuah kitab tafsir al-Qur’an terkenal, yang mulanya disusun oleh Jalaluddin al-Mahalli terhadap th. 1459, dan lantas dilanjutkan oleh muridnya Jalaluddin as-Suyuthi terhadap th. 1505. Kitab tafsir ini umumnya diakui sebagai kitab tafsir klasik Sunni yang banyak dijadikan rujukan, dikarenakan diakui enteng dimengerti dan terdiri dari hanya satu jilid saja. Sungguh tidak mengherankan jika Tafsir Jalalain digunakan Gus Baha sebagai salah satu referensi utama didalam tiap tiap pengajian yang beliau ajar.

Al hikam Ibnu Athaillah

Kitab Al Hikam Ibnu Athaillah merupakan hikmah-hikmah Ibnu Athaillah sehingga hidup Anda tidak saja terarah dan bermakna, tetapi termasuk tenteram dan indah! Al-Hikam menjelaskan orang Islam untuk berjalan menuju Allah, lengkap dengan rambu-rambu, peringatan, dorongan, dan penggambaran keadaan, tahapan, dan juga kedudukan rohani. Al-Hikam dipandang sebagai kitab kelas berat bukan saja dikarenakan susunan kalimatnya yang bersastra tinggi, melainkan termasuk kedalaman makrifat yang dituturkan lewat kalimat-kalimatnya yang singkat. Kitab Al Hikam memiliki bahasa yang luar biasa indah, kata dan arti saling mendukung, melahirkan ungkapan-ungkapan yang menggetarkan.

Kajian Nashoihul Ibad

Kitab Nashoihul Ibad ini miliki takaran yang arti yang begitu didalam dan hakikatnya begitu tinggi, sehingga jika dimengerti dan dipraktekkan didalam kehidupan sehari-hari bisa mengantarkan kita kepada kesucian hati, kebersihan jiwa dan kesantunan budi pekerti, dan juga bisa mengingatkan kita bakal pentingnya sadar arti hidup yang hakiki.

Reputasi Keilmuan Beliau

Selain Yogyakarta, beliau termasuk diminta untuk mengasuh pengajian Tafsir Al-Qur`an di Bojonegoro Jawa Timur. Jika Jogja di minggu terakhir, maka Bojonegoro di minggu ke-2 tiap bulannya. Hal ini beliau jalani secara teratur dari 2006 hingga kini.

Gus Baha’ termasuk merupakan ketua Tim Lajnah Mushaf UII. Bersama timnya yang terdiri dari para Profesor, Doktor, dan ahli-ahli Al-Qur`an dari semua penjuru Indonesia, seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib, dan para bagian Dewan Tafsir Nasional yg lain. Beliau pernah suatu kala ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, tetapi beliau tidak berkenan. Dalam jagad Tafsir Al-Qur’an di Indonesia, beliau termasuk pendatang baru, dan serupa sekali cuma satu bagian dari jajaran dewan tafsir nasional yg berlatar belakang pendidikan non resmi dan non gelar.Meskipun demikian, ke’aliman dan penguasaan keilmuan beliau terlalu diakui oleh para ahli Tafsir Nasional. Hingga suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof.Quraisy bahwa kedudukan beliau di dewan tafsir nasional tak hanya sebagai “Mufassir” tetapi termasuk sebagai “Mufassir Faqih”, dikarenakan penguasaan beliau terhadap ayat-ayat ahkam yang terdapat didalam A-Qur`an. Setiap kali lajnah “menggarap” tafsir dan mushaf Al-Qur’an, beliau senantiasa di dua posisi, yakni sebagai Mufassir seperti angota lajnah yang lain, termasuk sebagai Faqihul Qur`an, yang mempunyai tugas khusus mengurai takaran Fiqh didalam ayat-ayat ahkam Al-Qur`an.

Kitab Karya Gus Baha’ Rembang

Bukuفظنا لهذا المصحف berkenaan penjelasan rasm usmani disempurnakan umpama dan penjelasan yang disadur berasal dari buku al-Muqni’ karya Abu ‘Amr Usman bin Sa’id ad-Dani (w. 444 H.)

Buku tipis yang ditulis oleh Ahmad Bahauddin bin Nur Salim berasal dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah ini amat berfaedah bagi saya untuk mengetahui bagaimana mengetahui karakteristik penulisan al-Qur’an di didalam mushaf rasm usmani. Dan ini sekaligus menjadi alasan saya menulis resensi ini, semoga bisa menambahkan faedah bagi yang membaca.

Realitas hari bisa kita cross-ceck dengan di lapangan, bahwa banyak sekali para penghafal al-Qur’an namun tidak punyai kebolehan yang baik di didalam gramatika bhs arab. Dan banyak sekali yang mempunyai kebolehan gramatika bhs arab yang luar biasa namun tidak diberikan keutamaan hafal al-Qur’an. Belum lagi para mahasiswa yang menyita belajar al-Qur’an dan hadits, baik berasal dari yang strata satu, magister, bahkan doktoral, tidak semua hafal al-Qur’an. Dan lagi berapa pengajar yang termasuk tidak hafal al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa menurut saya yang mempunyai “dua pedang” berikut (baca: hafal dan menguasai gramatika arab) amat sedikit sekali. Gus Baha’ (begitu sapaan akrab pengarang buku di atas) adalah salah satu berasal dari sedikit yang mempunyai dua pedang berikut (selengkapnya berkenaan Gus Baha’ silakan baca: Sekilas Tentang Gus Baha’ Rembang).

Di didalam bukunya ia menyatakan bahwa sebenarnya rasm usmani merupakan warisan yang wajib dijaga. Cara menjaganya tidak hanya dengan menghafalkan, namun termasuk dicermati dengan detil bagaimana cara penulisan dan karakteristik rasm usmani tersebut. Sebab mushaf usmani ini tidak ditulis dengan metode imla’ yang senantiasa sama di didalam al-Qur’an. Hal inilah yang mendasari alasan Gus Baha’ yang berpendapat bahwa bhs itu riwayat, tidak hanya sekedar kaidah. Oleh karena itu banyak sekali penulisan-penulisan atau lafadz-lafadz yang benar secara kaidah i’lal, disaat tidak cocok dengan bhs arab secara sama’i maka tidak bisa dikiyaskan.

Misalnya di didalam penulisan مالك (mim ditulis panjang dengan alif di pada mim dan lam) –ini menurut qira’at ‘Ashim riwayat berasal dari Hafs– penulisan layaknya ini benar dan diperbolehkan. Namun ternyata penulisan layaknya itu bukan menurut rasm usmani. Sedangkan di didalam rasm usmani ditulis dengan ملك (mimnya dibaca pendek, ini menurut qira’atnya Qalun). Pada penulisan سُكارى dengan mengikuti wazan فُعالى namun di didalam rasm usmani ditulis سَكْرى ini mengakomodir qira’at Hamzah dan Kisa’i dengan mengikuti wazan فَعْلى .

Dari kedua umpama di atas berkenaan perbedaan-perbedaan qira’at dan cara penulisan rasm usmani bisa ditarik hepotesisnya bahwa amat urgen sekali untuk diketahui oleh pecinta al-Qur’an. Sebab ternyata mushaf cetakan Indonesia banyak yang tidak mengikuti standar rasm usmani, kendati perihal layaknya demikianlah tidak dilarang. Namun jikalau jikalau membaca sebagian macam mushaf dan menemukan penulisan yang asing, pembaca tidak kebingungan bagaimana bacanya.

Keistimewaan berasal dari buku ini yakni disempurnakan dengan tabel-tabel yang menyatakan postingan asli rasm usmani dan style penulisan yang kontemporer. Jadi pembaca tidak wajib membaca dengan detil ulasan-ulasannya, cukup dengan mencermati tabel saja. Hal ini amat menunjang termasuk di didalam mengidentifikasi perbedaan-perbedaan yang ada di didalam sebagian mushaf. Buku ini amat menunjang sekali di didalam menambah perhatian para pecinta al-Qur’an, baik yang menghafalkan maupun yang mengkaji. Ini termasuk anggota berasal dari bisnis beliau di didalam menjaga keotentikan rasm usmani yang tidak hanya dijaga secara hafalan, namun termasuk dengan penulisan.

Semoga Allah senantiasa merahmati guru saya ini (Bahauddin). Banyak kekurangan di didalam penulisan udah sepatutnya saya sebagai manusia. Ada kebenaran di dalamnya sekedar dikarenakan keutamaan berasal dari ALLAH.

Source:Kalamulama

#SantriMbelinxsID

#NahdhotulUlama

#AhlusSunnahWalJamaahAnNahdhiyyah

Minggu, 02 Februari 2020

KECINTAAN GUS BAHA' PADA ILMU

KECINTAAN GUS BAHA' PADA ILMU 

Membahas keyakinan tentang hidup dan apa yang menyebabkan hidup, suatu saat istri Gus Baha’ sampai bercanda.

“Gus, njenengan bisa hidup itu saja sudah bagus.”
“Memangnya kenapa?”
“Kelihatannya orang yang paling bingung di dunia itu njenengan, tidak menggagas omongan orang lain.” 
{saya kira ini salah tulis, seharusnya YANG PALING TIDAK BINGUNG ATAU TIDAK PERNAH BINGUNG)-

Ya (istri saya itu benar), saya (akui) memang begitu. Makanya saya nikah nggak cerai itu sudah bagus, karena saya itu antara kitab dan istri, lebih suka kitab.Saya tidak pernah membelikan perhiasan ke istri harga jutaan. Tapi klo membelikan kitab, berulang kali. Kitabnya mahal, lemarinya juga mahal. 

(Istri saya menyindir), “Wah, masih punya dobelannya, Gus.” 
Saya itu punya kitab Minhajul Abidin-nya Imam Ghazaliy, tiap haulnya Bapak, saya beli 60 eksemplar, saya kasihkan kepada yang mengaji. Bidayatul Hidayah saya sampai lupa berapa jumlah yang saya beli. Wahhab banyak. Ihya’ punya empat penerbit. Saya memang punya kebiasaan beli beberapa penerbit, supaya kalau ada salah cetak bisa melihat terbitan yang lain. 

Pas membeli Musnad Ahmad harganya 2,8 juta, saya diejek juga sama istri, “Kalau yang ini tidak akan mungkin bisa membeli dobelannya, harganya sudah seperti setan).” 

Tapi ternyata saya beli dapat di Lebanon. Di Indonesia tidak ada. Dapat juga. Saya bilang, “Kata siapa saya tidak dapat dobelannya?” 
Itu karena saking senang saya dengan ilmu. Lha yang begini kok dilawan orang yang taqrib saja terbata-bata. Kan tidak imbang. 

JANGAN SOK SEDIKIT-SEDIKIT SUNNAH RASUL

Makanya kalau menjelaskan sunnah rasul itu yang komprehensif. Karena sunnah rasul itu macam-macam. Sebagaimana saya jelaskan kemarin:
Saya di Jakarta bertemu orang macam-macam. Pernah ada satu acara, yang datang kyai, ya biasa, pakai sarung, pakai celana. Itu pas mulai pegang mic, ada separuh hadirin keluar.
Alasan mereka, “Belum-belum kok nggak pakai sunnah rasul.”
Karena kyainya nggak cingkrang.
Ketika saya ditanya, “Pak Baha’, mengapa masih mendengarkan mereka? Mereka tidak mengikuti sunnah rasul (nggak cingkrang)?”
Kata saya begini, “Rasulullah itu hafal Al-Quran. Dan saya kebetulan saya hafal, jadi saya sudah mengikuti sunnah rasul. Jadi kalau Anda ingin sunnah rasul seperti saya, Anda harus hafal Al-Quran. Kalau cuma memotong celana itu gampang. Itu kan murah sekali dan mudah.” 
Itu membuat mereka berpikir. Ternyata mereka bilang sunnah rasul itu hanya jenggot, cingkrang, dan ... poligami biar ada tambahannya. 
Surbanan, jubahan itu sunnah rasul, tapi shalat pakai sarung saja dengan mengikatkannya di leher itu juga sunnah rasul. Bagaimanapun juga di antara sunnah rasul itu (kita lakukan) karena kita bisa membelinya. Kalau tidak mampu beli harus bagaimana?
Jabir di era thabi'in itu pernah shalat, bawa surban, bawa jubah, lalu beliau gantungkan, shalat hanya pakai sarung diikatkan leher. Thabi'in merasa janggal.
“Ya Jabir shahabat Rasulullah, bukankah surbanan itu sunnah Nabi?” 
Jabir menjelaskan, “Ya itu sunnah Nabi plus karena kalian bisa beli. Saya melakukan ini agar orang-orang bento seperti kalian tahu semua. (Jabir mulai menangis) Kafan orang mati rapat atau tidak?”
“Ya rapat.” Jawab thabiin.
“Ketika Sayyid Hamzah ahabbunnas ila rasulillah, kapundhut, kafannya tidak cukup. Ditutupkan kepala beliau, kaki nampak. Ditarik ke kaki, kepalanya nampak. Sekarang kau pakai pakaian lengkap.”
Lalu nampak sedikit-sedikit sunnah rasul. Sunnah rasul itu orang yang melakukan semua yang pernah dilakukan Nabi, termasuk Nabi pernah shalat dalam keadaan takut, pernah shalat tidak bisa wudlu, pernah shalat dalam tekanan, termasuk pernah shalat hanya memakai selambar pakaian.
Paham ya. Jadi macam2.
Karena itu sekarang misalnya shadaqah sunnah rasul. Ya itu karena kau mampu!
Termasuk sunnah rasul itu kau kelaparan sampai perutmu kau ganjal batu. Kau berani tidak? Tidak, ini fair saja. Berani tidak? 
Ujung-ujungnya kita bilang sunnah rasul itu yang asyik-asyik saja: Kalau kau shadaqah kan gagah! Sudah gagah, dipuji lagi. Pasti itu karena kau punya uang. 
Coba kau pilih sunnah rasul dikejar-kejar orang 10 tahun lalu kelaparan perut diganjal, tidak kunjung menang. Itu lakukan dulu 13 tahun. 
Poligamilah juga perlu diberi pertanyaan begitu. Sunnah rasul itu istri banyak. Iya, setelah istri pertama mati, orang semua tahu. Nabi SAW beristri banyak setelah Khadijah kapundhut atau masih hidup? Jawab saja! 
Sekarang pertanyaannya, orang2 yang poligami sekarang itu tidak tergesa-gesa, menunggu istrinya mati, ataukah tidak usah menunggu istri pertamanya mati? 
Kalau ingin poligami ya poligami saja, tidak usah bilang itu sunnah rasul. Karena konsekuensinya kalau kau bilang persis, ya persiskan dulu, istrimu itu suruh mati duluan. 
Kalau poligami, biasa saja menjawab ketika ditanya kenapa poligami. Jawab saja “memang ingin.” Sudah selesai, kan. Lha kenapa kok ingin? Ya karena punya uang. Karena kalau tidak punya uang, keinginan poligami itu pasti hilang.
Tapi nggak usah sok suci sedikit-sedikit sunnah rasul. Biasa sajalah. Kalau ingin amal, amal saja. Bagaimanapun juga zina itu buruk, bagusnya kawin. Jadi jujur. Itu sunnah rasul, jujur adalah sunnah rasul. Iya kan? Nabi SAW ngendikan nikah itu sederhana: kenapa orang kok nikah?
فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ
Bagaimanapun juga kalau sudah ingin tahu rasanya perempuan, kawinlah. Kalau ingin ya kawin, itu menjaga dari zina.
Nabi sederhana ngendika: pokoknya butuhnya nikah itu supaya tidak zina.
Tapi orang sekarang kan berlebihan. Sok paling sholeh: poligami memperbanyak umat Nabi, alasan begini begitu. Lha meski istrimu buruk rupa kan juga bisa produksi. Tapi kau nggak kuat mental kan kalau istrimu jelek. Lha iya, kalau tujuannya memperbanyak umat, coba pilih empat orang yang kau nikah itu yang fisiknya buruk semua. Tetap bisa kan produksi manusia. Tapi kau tetap memilih yang cantik-cantik.
Makanya sudah tidak usah berlebihan ya. Biasa saja meniru Nabi mengapa nikah, ya
أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ
Bagaimanapun juga menikah itu membuat tidak berzina.
Makanya kau yang hormat dengan istrimu, yang telah mencegahmu dari zina. Karena itu cintai istrimu yang benar.
Nah sebab tidak zina itu juga karena kau melarat. Itu juga harus kau syukuri, bagaimanapun juga sebabmu tidak berzina itu karena melarat.

JADI WALI JALUR MUDAH
Tapi lebih tinggi lagi punya uang terus tidak berzina. Itu langsung wali, perkaranya punya kesempatan kok tidak tidak melakukan. Karena tujuh golongan yang:
يُظِلُّهُمُ اللَّهُ في ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إلَّا ظِلُّهُ
Itu tidak ada orang melarat. Yang termasuk di dalamnya adalah lelaki ganteng, diajak perempuan cantik, menolak. Artinya syarat tidak berzina menjadi wali itu harus punya kesempatan. Tidak berzina saja juga sudah baik, tapi belum wali. Kalau punya kesempatan, kok menolak, itu wali. Padahal yang punya kesempatan orang kaya atau melarat? Kaya. Karena itu orang kaya itu mudah menjadi wali, tiap nggak jadi maksiat dia menjadi wali. Pokoknya usahakan tidak jadi, itu mudah jadi wali.
Kanjeng Nabi naik unta membaca:
سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ
Saat kau naik bus umum atau pribadi Kijang Innova, kau tidak bisa bikin hukum:"aku tidak membaca doa itu karena Nabi SAW membaca doa itu pas naik unta."
Hukum membaca doa itu tetap, soal kendaraan apa suatu saat berganti. Makanya orang yang sedikit-sedikit sunnah rasul itu juga ada bodohnya. Kalau mengikuti sunnah rasul ya membaca
سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا
saat kau naik unta saja.
Itu saja masih belum persis sunah rasul, karena naiknya harus di Mekkah. Kalau sudah di Mekkah, masih ada masalah karena untanya ternyata bukan untanya Kanjeng Nabi. Rusak dah! 
Makanya orang yang sedikit-sedikit sunnah rasul itu juga ada kelirunya. Tapi kau menyalahkannya juga bodoh, karena jadinya kau sekuler. Tapi jika kau imani terlalu juga nampak bodohnya wong sisi bodohnya juga benar2 banyak. 
Lama2 ada orang shadaqah jadi begini:
Sedekah sunnah rasul itu kurma, karena pada orang melarat, Nabi memberinya kurma. Jelas hadits shahih pemberian Nabi adalah kurma. Sekarang kau misalnya ada orang Indonesia kelaparan, kau bilang, "sebentar saya carikan kurma, beras itu bukan sunnah rasul. Kau ini mau buat orang kelaparan tambah giginya ngilu atau gimana? 
Nggak ada kan yang memaksakan sedekah kurma. Kau orang Indonesia sedekahnya beras atau uang.
Baju juga begitu. Nabi memberi baju jubah pada Uwais al Qarni. Lalu orang pendek kriting kerja kasar kau sedekahi jubah, karena Nabi memberi baju berupa jubah.
Jadi bilang sunnah rasul itu mbok ya agak dipikir to. Bagaimanapun juga secara aturan fiqih:
الحكم يدور مع علته وجودا وعدما
Hukum itu berputar tetap sesuai konteksnya.
Bukan berarti hukumny berubah. Tidak. Konteks itu tidak merubah hukum. Jadi hukum itu tidak pernah berubah, tapi yg bawaan zaman, tempat, itu tidak usah terlalu kau perdalam seperti di atas itu.
***
Sepenggal pengajian Gus Baha 

Silakan dikoreksi,
Korek Engkek

#SantriMbelinxsID
#NahdhotulUlama
#AhlusSunnahWalJamaahAnNahdhiyyah

CATATAN KUNJUNGAN GUS BAHA' KE BANGKALAN

CATATAN KUNJUNGAN GUS BAHA' KE BANGKALAN

Jum'at sore, 31 Januari, 2020 M

Gus Baha' dan rombongan langsung menuju makam Syaikhona Kholil di Martajasah. Pertama kali beliau melihat saya, beliau langsung tersenyum dan bertanya :

" Kok nikahnya jauh-jauh ke Yaman ? At'abta Man Ba'dak.. Kasian nanti kalo ada yang mau niru tapi nggak bisa.. Kalo dianggap sunnah gimana ? " 

Ingin saya menjawab :

" Bagi kulo.. Sejauh apapun jarak akan kulo tempuh demi doa dan barokah Guru Gus.. "

Tapi saya hanya tersenyum tak menjawab.. Saya sadar jawaban sebaik apapun pasti pada akhirnya akan dimentahkan oleh Gus Baha'. Saya hanya berfikir dalam hati dari mana beliau tau kabar pernikahan saya ? Bukannya beliau sama sekali nggak aktiv di dunia per-sosmed-an ? Belum sempat bertanya, beliau sudah dawuh :

" La wong istri saya ngikuti sampean di Instagram " 

Beliau lalu bertanya kepada saya :

" dimana tempat yang sepi orang disini ? "

Kami akhirnya mengantar beliau ke pojok kiri Masjid Syaikhona. Disana kami duduk sambil menunggu adzan Maghrib. Setelah sholat Maghrib kami berziarah bersama rombongan Gus Baha'. Ziarah selesai kami langsung menuju perumahan Kayangan, disana Gus Baha' bertemu dengan Tim Turots Syaikhona Kholil, Lembaga Investigasi karya-karya Syaikhona Kholil yang Alhamdulillah diisi oleh para dzurriah beliau. Di kesempatan itu ketua Tim kami Kak Utsman Hasan menyodorkan beberapa Manuskrip tulisan Syaikhona Kholil yang berhasil ditemukan oleh Tim. Salah satunya adalah Manuskrip Al-Quran kuno tulisan tangan salah satu santri Syaikhona yang dimaknai Gandul oleh Syaikhona. Di halaman terakhir Syaikhona memang memberi catatan kaki bahwa siapa saja yang membaca naskah Al-Quran ini dan menemukan kesalahan di dalam penulisannya, beliau sangat berharap agar segera dibenarkan. karena beliau sendiri mengakui banyak kekhilafan/kelalaian yang terjadi didalam penulisannya. 

Dan memang betul, saya dan anggota Tim yang lain menyaksikan sendiri bahwa beliau Gus Baha' sudah bisa menunjukkan salah satu dari kesalahan tersebut dengan hanya sekali membuka saja, beliau lalu mulai menunjukkan kesalahan yang lain baik min haitsul harakat atau huruf. 

beliau lantas berkata :

" Al-Quran ini keahlian saya.. Dengan sekali menyentuh saja saya sudah bisa tau Naskah Al-Quran yang ada salahnya atau tidak " 

" Nyetrum Gus ?" saya menimpali.

Beliau tertawa dan berkata :

" Iya betul nyetrum.. Kayak temen saya, meskipun dia buta tapi dia bisa tau bedanya cewek cantik sama nggak.. Pernah ada cewek cantik lewat dia bilang :

" cewek iki uaayu gus.. "

" loh kok ngerti.. Awakmu kan wuto ? "

" Aku iso ngrasakno Gus.. " 😂🤣

Entah keistimewaan yang diberikan kepada Gus Baha' itu dinamakan Kasyaf, Ilham atau karomah. Yang jelas menurut saya itu adalah Taufiq dan Inayah khusus yang dianugrahkan Allah kepada para ulama Ahlil Quran seperti beliau. 

Beliau juga bercerita bahwa beliau pernah mendapat Al-Quran tulisan Utsmani asli. Tulisannya kotak-kotak tanpa harokat dan titik, ketika sudah hampir menyerah bagaimana cara membacanya, Gus Baha' berdoa :

" Ya Allah.. Alat yang saya miliki sudah tidak cukup untuk membaca Mushaf ini.. Jadi sekarang saya memakai hak saya sebagai ahlul Quran.. Dengan hak saya sebagai Ahlul Quran tolong ajari saya gimana cara membacanya "

Setelah beliau berdoa seperti itu ndilalah tiba-tiba beliau bisa membaca Al-Quran tulisan Utsmani itu. 

Mungkin bagi kalian yang baru pertama kali mendengar Gus Baha' berkata seperti itu, kalian akan mengira bahwa beliau adalah sosok yang "angkuh" dan sombong.. Hakikatnya tidak seperti itu, bagi saya gaya yang dipakai Gus Baha' adalah salah satu bentuk "Idzharul Ilmi" : Tatkala seorang Alim menampakkan dan menonjolkan kealimannya ditengah-tengah zaman yang mana orang yang hanya bermodal caci-maki dan kata-kata kotor saja sudah bisa mendapat gelar ulama.

Bukankah Rasulullah Saw pernah bersabda :

" إذا ظهرت البدع في أمتي فعلى العالم أن يظهر علمه "

" ketika sudah banyak Bid'ah di antara ummatku.. Maka seorang Alim harus menampakkan kealimannya " 

Saya ingat, ketika sowan kepada beliau, Beliau pernah berpesan :

" Sekarang banyak Alumni-alumni pesantren yang sok Tawadhu'.. Nggak mau maju, nggak mau tampil.. Akibatnya sekarang yang punya panggung ya orang-orang gak berilmu itu.. Yang gak pernah mondok sama sekali malah kayak .... " 

(beliau lalu menyebut tokoh yang menurut beliau tidak berilmu tapi tetap saja dikasih panggung ) 

Selesai bertemu dengan Tim Turots, Gus Baha' langsung menuju lokasi pengajian PP. Syaichona Cholil. Di awal ngaji, ketika mengomentari kitab Isti'dad lil Maut karya Mbah Kholil, beliau sudah mengeluarkan joke-joke khasnya. 

" dulu ketika saya masih kecil.. Saya sering mendengar cerita kalo Mbah Kholil Nalqin Mayyit beliau biasanya dawuh :

" nanti kalo dateng malaikat nanya macem-macem bilang kamu masih nunggu saya ya .. " 

Ternyata di kitab ini Mbah Kholil mengajari cara menjawabnya.. Jadi saya agak kecewa.. " 😂🤣 (pengajian lengkapnya bisa kalian lihat di Yutub)

Pada akhirnya.. Menurut saya ke-viral-an Gus Baha' adalah sebuah anugrah yang wajib kita syukuri, wabil khusus bagi warga Nahdiyyin dan Qoum Pesantren. Barokah Yutub dan media lainnya, Ditengah Zaman penuh Fitnah ini kita masih bisa dengan mudah ngaji dan mencuri ilmu bergizi dari sosok Gus Baha' yang sangat jelas kualitas kealiman dan sanad keilmuannya.

Sehat selalu Gus Baha'.. Allah Yahfadhzak wa Yar'aak bikamali ri'ayatih.

* Ismael Amin Kholil, Bangkalan, 2 Februari, 2020.
*Lora Ismael adalah Cicit dari Syaichona Cholil Bangkalan

#SantriMbelinxsID
#NahdhotulUlama
#AhlusSunnahWalJamaahAnNahdhiyyah

Sabtu, 01 Februari 2020

GUS BAHA' : KETURUNAN ULAMA HARUSNYA SEDIH

GUS BAHA' : KETURUNAN ULAMA HARUSNYA SEDIH
.
"Orang itu kalo keturunan ulama atau wali, dia seharusnya tidak bangga, tapi justru sedih dan terbebani. Sedih jika akhlak, prilaku, dan pencapaiannya tidak sama dengan mbah-mbahnya."
.
Gus Baha' seakan ingin menjelaskan kepada tamunya di sore itu yang kebanyakan adalah para Gus dan lora, bahwa nasab mulia itu bukan untuk dibuat bangga-bangga-an, bukan hanya dapat ditunggangi untuk mendapat rasa hormat manusia kebanyakan, lebih dari itu semua nasab mulia adalah sebuah beban dan tanggung jawab, sebuah pelecut diri untuk mengikuti tindak-jejak para leluhur yang merupakan wali-wali Allah itu. .
Beliau lalu mengambil sebuah kitab, Kitab Fawaidul Mukhtaroh  kumpulan kalam dan fawaid Habib Zain Bin Smith, beliau meminta Yek Shodiq untuk membacakan sebuah kisah dalam kitab itu:
.
"Suatu ketika ada golongan para Sayyid sedang berkumpul membaca kitab المشرع الراوي, kitab manaqib para Habaib Ba'alawy. Kala itu ada seorang Baduwi yang kebetulan ikut menyimak sejak awal. Ketika pembacaan kitab selesai, Baduwi itu bertanya:
.
"Mereka yang dibaca manaqibnya ini keluarga siapa?"
.
"Mereka adalah buyut-buyut kami," jawab para sayyid.
.
"Alhamdulillah mereka bukan buyut-buyut saya," Baduwi itu menimpali.
.
Para Sayyid itu kaget lalu berkata:
.
"Jika mereka buyutmu, itu adalah sebuah anugrah untukmu."
.
"Tidak. Justru jika mereka adalah kakek buyut saya, saya akan merasa sangat malu karena amal perbuatan saya sangat jauh dibandingkan amal perbuatan mereka." .
Gus Baha lalu mengomentari kisah itu:
.
"Jadi gak enak to anaknya kiai? Misalnya ada orang baca sejarahnya Syaikhona Kholil, kita (yang bukan keturunan beliau) senyum-senyum aja, gak beban, gak harus niru, kan gak cucunya."
.
Beliau tertawa, sedangkan kami yang menjadi target "sindiran" itu hanya bisa tersenyum malu. Tapi itu yang saya suka dari Gus Baha', beliau selalu mempunyai cara yang khas dan unik dalam menyampaikan sebuah pesan, tanpa ada kesan menyakiti atau menggurui
.
"Kalian keturunan ulama harus begini. Harus begitu."
.
Gus Baha' justru lebih memilih menyampaikan sebuah cerita dengan hikmah yang sangat dalam

Oleh Ismael Amin Kholil, Cicit Syaikhona Kholil Bangkalan
#SantriMbelinxsID
#NahdhotulUlama
#AhlusSunnahWalJamaahAnNahdhiyyah

SEJAK KECIL GUS BAHA' KAGUMI KEWALIAN SYAICHONA KHOLIL DALAM ILMU NAHWU

SEJAK KECIL GUS BAHA' KAGUMI KEWALIAN SYAICHONA KHOLIL DALAM ILMU NAHWU

Ngaji Turats Syaichona Cholil bersama Gua Baha’ dan Gus Ghofur kitab Tagrirat Syaikhina Kholil Ala Mandzumati Nuzhatit Tullab Fi Kowaidzil I’rob dan Isti’dadul Maut yang baru saja di terbitkan  Gus Baha’ menjelaskan bahwa dengan syaichona cholil bisa mengarang nahwu Kitab Tagrirat Syaikina Kholil tersebut menunjukkan bahwa Syaichona Moh. Cholil memang adalah Ulama’ sekaligus Wali.

‘’Adanya kitab tagrirat Syaikhona Kholil ini menurut saya beliau itu benar- benar wali karena diantara syaratnya wali itu menyelamatkan naskah karena agama ini dibawa dengan Al- Qur’an dan Hadis semua itu berbentuk naskah’’
ucapnya kepada ribuan Masyarakat yang hadir.

Ngaji Turats kitab Syaikhona Kholil yang baru saja diterbitkan oleh generasi ke lima Dzurriyah Syaichona Moh. Cholil, tersebut Gus Baha’ mengaku dihadapan masyarakat yang hadir bahwa Gus Baha’ ketika masih kecil suka membaca kitab nahwunya Syaichona Moh. Cholil karna memang Syaichona Moh. Cholil terkenal alim dalam bidang nahwu serta kewaliannya.

”Saya termasuk orang yang suka baca nahwunya Syaichona Moh. Cholil karna dulu ketika saya kecil terkenalnya Syaichona Cholil itu bisa meng-alfiahkan ilmu menjadi hakikat atau menghakikatkan al- fiah’’ tutur Gus Baha’.

Gus Baha’ juga senang wali seperti Syaichona Cholil ini karna Syaichona Cholil selain terkenal kewaliannya juga masyhur dalam bidang nahwunya.

“Saya senang Syaichona Cholil terkenal wali juga terkenal alim nahwunya, saya dulu ngaji ke Mbah Maemoen kitab Jam’ul jawamik yang kitab nahwunya bulat- bulat, saya senang kalau ngaji kitab yang nahwunya bulat- bulat, mbah Maemoen sampai sepuh ya.. baca ibnu agil, itu memang seakan- akan syaratnya ulama’ yang jadi wali bukan wali yang jadi ulama’ itu harus alim billughatil arabiyah atau billisanil arabiyah’’ucapnya.

Reporter :Fakhrul/EDITOR :ACH. SHOIM KARIM/Syaichona Net
#SantriMbelinxsID
#NahdhotulaUlama
#AhlusSunnahWalJamaahAnNahdhiyyah

NGAJI TUROTS SYAIKHONA KHOLIL BANGKALAN

NGAJI TUROTS SYAIKHONA KHOLIL BANGKALAN

Setelah dilaunching pada Hari Santri 2019 lalu bersama Aswaja NU Center Jatim, kedua kitab Syaikhona Kholil Bangkalan dikaji oleh Gus Ghofur dan Gus Baha' di Pondok Syaikhona Kholil, Kademangan Bangkalan Madura, yang diasuh oleh KH Fakhrillah Aschol (Rais Syuriyah PCNU Bangkalan)

Gus Baha' lebih banyak menyampaikan isi kitab yang berkaitan dengan ilmu nahwu, yaitu Taqrirat Qaidah I'rab yang ditulis oleh Syaikhona Kholil. Beliau pun menyampaikan bahwa sebelum Syaikhona memiliki karomah sebagai Waliyyullah, beliau telah menjadi orang alim terlebih dahulu.

Sementara Gus Ghofur lebih banyak mengulas tentang Guru Spiritual. Bahwa semua pergerakan tidak hanya ditopang oleh kekuatan, dana, intelektual maupun dimensi fisik, namun pasti memiliki sosok yang ahli dalam bidang spiritual. Di NU itu adalah Syaikhona Kholil.

"Orang besar bukanlah orang yang hanya besar dirinya saja, namun dapat membesarkan penerusnya. Generasi penerus seperti KH Hasyim Asy'ari, Wahab Hasbullah, KH Bishri, KH Manaf Lirboyo dan kyai-kyai besar lainnya adalah orang-orang yang dibesarkan oleh Syaikhona Kholil. Maka tidak ada keraguan lagi akan kehebatan Syaikhona Kholil Bangkalan" kata putra Kyai Maimun Zubair lulusan Al-Azhar ini.

•] Alhamdulillah berkat bantuan Gus Fathurrozi Zubair saya berada di bagian depan dan bisa melihat langsung kedua Nara sumber tadi malam

KH. Ma'ruf Khozin

#SantriMbelinxsID
#NahdhotulUlama
#AhlusSunnahWalJamaahAnNahdhiyyah

Senin, 06 Januari 2020

GUS BAHA': BAHAYANYA ORANG BODOH YANG PURA-PURA KHUSYU'

GUS BAHA': BAHAYANYA ORANG BODOH YANG PURA-PURA KHUSYU'

 Baha memperingkatan kepada jemaah terkait bahayanya orang yang berpura-pura atau berpenampilan khusyu’ atau ahli ibadah tapi nihil ilmu.
Gus Baha: Bahayanya Orang Bodoh yang Pura-pura Khusyu’
Kadar keilmuan atau kealiman seseorang tidak bisa diukur dari penampilannya. Kealiman seseorang harus benar-benar didasarkan pada kapasitas kelimuan seseorang yang bisa diketahui dari rekam jejaknya.
Dalam pengajian rutin kitab Tafsir Jalalain di Yogyakarta tanggal 30 Desember 2019, Gus Baha memperingkatan kepada jemaah terkait bahayanya orang yang berpura-pura atau berpenampilan khusyu’ atau ahli ibadah tapi nihil ilmu.
“Orang bodoh yang ahli ibadah itu banyak loh fatwanya (yang dikeluarkan), (yang secara) diam-diam menciptakan tradisi yang bilaa ‘ilmin (tanpa ilmu),” ujar Gus Baha.
Beliau tidak mengkritik perilaku saleh, tetapi beliau mengkritik seseorang yang gemar menampilkan ibadahnya atu penampilannya kepada khalayak, hingga banyak orang yang menganggapnya sebagai ulama, padahal sebenarnya dia tidak berilmu. Akhirnya, banyak orang yang meminta fatwa kepadanya, fatwa pun dikeluarkan dengan asal, tetapi tidak didasarkan pada ilmu.
“Makanya orang khusyu’ (tanpa ilmu) sering dikritik di bab ilmu loh ya, bukan berarti kamu jangan khusyu’, khusyu’ di bab ilmu itu sering dikritik termasuk oleh Sayyidina Ali,” tutur pengasuh salah satu pesantren di daerah Rembang, Jawa Tengah ini.
Gus Baha mengutip salah satu perkataan Sayyidina Ali ketika menjadi amirul mukminin (khalifah keempat) yang mengkritik orang bodoh tapi ahli ibadah,

قصم ظهري رجلان عالم متهتك وجاهل متنسك

“Orang yang mengacaukan saya itu ada dua, yaitu orang yang berilmu tapi fasik (gemar maksiat) dan orang bodoh ahli ibadah.
Kemudian perkataan Sayyidina Ali sering digubah oleh para ulama dalam sebuah nazam (syair) yang dikenal di kalangan pesantren sebagai syair Alala,

فَسَــادٌ كَبِيْرٌ عَــــالِمٌ مُـتَهَتِّــــكٌ # وَ اَكْبَرُ مِنْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكُ

Kerusakan besar yaitu orang yang berilmu tapi fasik (gemar maksiat), dan kerusakan lain yang lebih besar adalah orang yang bodoh namun tetap bersikukuh menjalankan ibadah dalam kebodohannya“.
“(Misalnya) ada orang khusyu’ bawa tasbih kesana-kemari. Kemudian ditanya (orang) tentang faraid, ada pria dan wanita ditinggal mati oleh ayahnya, (hukum) warisannya bagaimanya ya?,” kata Gus Baha dalam mencotohkan orang bodoh ahli ibadah yang dimintai fatwa.
“Sama-sama anak ya (bagian warisannya) sama saja,” ucap Gus Baha menirukan orang bodoh tadi yang disambut gelak tawa jemaah.
Gus Baha juga menuturkan bahwa pada zaman Rasulullah SAW sudah terdapat fenomena orang yang terlihat saleh tapi ketika ada peristiwa nasakh mansukh mengenai arah kiblat orang islam banyak yang terprovokasi.
Ketika ada perintah dari Allah SWT yang memerintahkan Rasulullah SAW untuk menghadap Kakbah yang sebelumnya menghadap Baitul Maqdis banyak orang kafir Mekah yang memprovokasi umat islam.
“Lihatlah orang yang kalian ikuti, Muhammad, yang agamanya bingung. Setelah menghadap Ka’bah, menghadap Baitul Maqdis, (kemudian) menghadap Kakbah lagi,” tutur Gus Baha menirukan ucapan kafir Mekah.
Mendengar ucapan tersebut terdapat beberapa orang yang awalnya mukmin menjadi kafir karena memercayai ucapan orang kafir Mekah tersebut. Hal ini tentu berbeda dengan orang berilmu yang mengikuti perintah Rasulullah SAW, karena dia berkeyakinan bahwa apa yang dilakukan Rasulullah SAW pastinya berasal dari perintah Allah SWT.
Gus Baha bukan berarti melarang kita untuk bernampilan khusyu’ atau saleh. Akan tetapi, beliau melarang kita menjadi ahli ibadah tapi tanpa didasari ilmu, yang hanya membuat orang lain menganggap kita sebagai orang alim, lalu dimintai fatwa dan menjawabnya dengan sembarangan. Sehingga apa yang difatwakan malah bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya. (AN)
Wallahu a’lam.

Ulin Nuha/Islmi.Co
#SantriMbelinxsID
#NahdhotulUlama
#AhlusSunnahWalJamaahAnNahdhiyyah

MENGAPA GUS BAHA' SERING SEKALI MENYEBUT NAMA BAPAKNYA?

MENGAPA GUS BAHA' SERING SEKALI MENYEBUT NAMA BAPAKNYA?

Saya, dan Sampeyan semua, mungkin terlalu sering mendengar Gus Baha menyebut nama bapaknya, Mbahnya, Mbahnya Mbah, dan seterusnya. Ini memaksa saya ingat bapak, almarhum Sahal Irsyad, yang jarang saya sebut, di muka teman-teman, apalagi di panggung-panggung terhormat (pasti saja, saya belum pernah naik panggung terhormat semacam acara haul Kiai Ali Maksum atau haul Gus Dur, kecuali membenahi mik atau menyuguhkan minuman. Haul dan sejenisnya itu haknya orang alim dan saleh).

Saya termasuk orang yang tidak terlalu suka mendengar seseorang sering menyebut kealiman atau amal jariah bapaknya, apalagi di depan umum, dilakukan berulang-ulang pula. Suka geleng-geleng kepala saya karena itu. Tentu saja saya orang primpen menyimpan kisah-kisah orang tua saya, bahkan saya tidak banyak cerita pada mertua, juga istri sendiri.

Dalam kasus berbeda, saya pernah ekstrim: sinis sama orang tua yang membubuhi nama dirinya ke anak-anaknya. Bebas saja sih, wong anak-anaknya sendiri, nama-namanya. Tapi, sekali lagi itu ekstrim. Alasanku: kayak hebat saja namanya ditempelin ke nama anaknya. “Besok kalau anaknya bangga, kan pasti akan ditambahi sendiri oleh anaknya,” begitu sinisme saya.

Belakangan saja, beberapa kali saya cerita ke Naafi dan Nawa, itu pun karena mereka tanya-tanya. Anak saya mengenal dengan baik orang tua dari ibunya. Sementara mereka tidak mengenal orang tua ayahnya, kecuali tiap tahun ziarah ke kuburannya yang hanya ditandai kayu sederhana itu. Foto orang tua saja yang jelas wajahnya tidak pernah dilihat. Mungkin Nawa dan Naaf bertanya-tanya: aneh sekali orang kok tidak ada fotonya?

ليس الفتى من يقول كان أبي ولكن الفتى من يقول ها أناذا

Pepatah itulah yang merasukiku hingga jarang bercerita ihwal orang tua. Karena itu pula, beberapa kawan mungkin sering melihat sifat tidak terpuji saya: sering menepuk dada sendiri.

Setelah sering mendengar Gus Baha menyebut bapaknya, bapaknya bapak, bapaknya bapaknya bapak, saya punya alasan lebih untuk semakin primpen menyimpan nama bapak saya.

Namun di sisi lain, lambat laun, saya menemukan sendiri “dalil” kenapa Gus Baha sering menyebut nama leluhurnya itu. Apa “dalilnya”?

Saya berkata untuk diri sendiri: Gus Baha, Gus Ghofur (dan lain-lain), layak sering bercerita Kiai Nursalim, Mbah Maemoen, karena PANTES. Dua “gus” kita ini alim, saleh, rajin silaturahim, disiplin, mutalaah terus-menerus, dermawan ilmu, dan memiliki tanda-tanda kewalian, yakni suka humor..hahaha.. Jika Kiai Nursalim atau Mbah Moen di alam sana mendengar namanya disebut-sebut oleh anak-anaknya itu wangun, pantas, layak.

“Hehe.. Fur, Ghofur, kowe entuk menyebut-nyebut namaku asal kowe istikamah,” mungkin begitu Mbah Moen berkata.

Kiai Nursalim mungkin juga akan berujar senada dengan Mbah Moen, “Ha, Baha, sebutlah namaku di pengajian-pengajianmu, sesering yang kamu suka, kecuali kowe wis ra tau mutholaah opo males ngajar.”

Mafhum mukhalafahnya, jika ada orang bapaknya alim, saleh, dedikatif, disiplin, merakyat, namun anaknya punya sifat sebaliknya, maka…..maka…silakan hukumi sendiri…

Walhasil, sekarang saya tidak musykil lagi Gus Baha sering menyebut leluhurnya yang memang mulia itu. Sebab, saya yakin, Gus Baha, Gus Ghofur, juga mulia, menapaki jejak para orang tuanya. Bagaimana dengan saya?

Saya? Saya tidak akan meniru “gus-gusque”. Jika suatu hari nanti, Sampeyan semua sering mendengarkan saya menyebut nama orang tua, nasab, berarti saya nambah alim dan saleh, kayak Gus Baha…wkwkwkwkw..

Minggu, 17 November 2019

MUDAH DAN GEMBIRANYA HIJRAH BERSAMA GUS BAHA'


Ibarat kata, orang cantik tidak perlu distempel cantik di dahinya. Tidak perlu juga ia membawa kertas bertuliskan “saya cantik.” Karena orang sudah tahu bahwa ia cantik.

Yang terbaru adalah hijrahnya seorang Deddy Corbuzier. Hanya saja, seorang yang disebut sebagai The Father of Youtube Indonesia ini tidak mau dikatakan berhijrah layaknya tren hijrah akhir-akhir ini.

Hijrahnya Deddy Corbuzier Itu Beda
Memang Deddy Corbuzier tidak mau dikatakan ikut-ikutan tren hijrah. Akan tetapi, apa yang ia lakukan sebenarnya sudah dalam kategori hijrah.

Menurut Bahasa, hijrah artinya berpindah. Orang yang berpindah dari suatu kota ke kota yang lain disebut berhijrah. Makanya, sahabat Nabi Muhammad yang dulu hijrah atau berpindah dari Makkah ke Madinah disebut sebagai muhajirin, yaitu orang yang berhijrah.

Akan tetapi, ada juga sebuah hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori yang menyatakan bahwa hakikat orang hijrah adalah orang yang meninggalkan larangan Allah.

Dari dua istilah tersebut, muncullah pembagian hijrah. Ada hijrah secara fisik. Ada yang hijrah secara nilai.

Apa yang dilakukan oleh artis yang berhijrah itu bisa diartikan mereka hijrah secara nilai. Begitu juga dengan seorang Deddy Corbuzier.

Makna hijrah semakin sempit lagi. Jika dilihat dari fenomena sekarang ini, kebanyakan orang mengartikan hijrah sebagai upaya untuk meniru apa yang dilakukan oleh Nabi. Dengan kata lain, mereka ingin menjalankan sunnah Nabi.

Karena pemahaman seperti itu, banyak dari mereka yang meniru Nabi Muhammad secara fisik, seperti memanjangkan jenggot, memakai sorban, mengenakan jubah, dan lain sebagainya.

Tentu itu bukan hal yang salah. Hal semacam itu juga dinamakan sunnah. Hanya saja, sunnah Nabi seperti itu tidak disampaikan oleh Aisyah, istri Rasulullah. Ketika ada sahabat yang bertanya tentang sunnah Nabi, Aisyah menjawab bahwa Nabi itu orang yang tidak mudah marah, selalu memaafkan kesalahan orang lain, selalu memenuhi undangan orang miskin, dan lain sebagainya. Apa yang dikatakan Aisyah tersebut bersifat ahwal atau perbuatan, bukan yang bersifat aksesoris seperti memakai jubah dan memanjangkan jenggot.


Hal ini pula yang dikritik oleh seorang ulama’ muda dari Rembang, Gus Baha’. Dalam sebuah pengajian, beliau mengatakan sah-sah saja meniru sunnah Nabi dalam hal berpakaian atau berpenampilan. Akan tetapi, menurut beliau, akan lebih hebat jika umat Islam mengikuti sunnah Nabi dalam hal ahwal atau perbuatan.

Apa yang dilakukan oleh Deddy Corbuzier bisa jadi intepretasinya terhadap apa makna dari hijrah seperti penjelasan Gus Baha’. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak ingin mengikuti tren hijrah seperti yang dilakukan oleh artis. Dalam arti, ia tidak ingin berhijrah yang sifatnya aksesoris.

Pemaknaan hijrah oleh Deddy Corbuzier tersebut semakin jelas berbeda dengan pemaknaan hijrah oleh sejumlah artis manakala Deddy diminta untuk memakai peci. Seorang Youtuber perempuan Indonesia, Ria Ricis, membuat vlog khusus setelah Deddy masuk islam. Ria Ricis membawakan hadiah yang bernuansa Islam. Salah satu hadiah yang ia bawa adalah peci.

Deddy diminta untuk memakainya. Kemudian, ada satu kalimat yang Deddy ucapkan. Peci itu bukan tanda Islam tapi hanya budaya. Perkataan tersebutlah yang membuat semakin jelas bagaimana Deddy memahami Islam. Bagaimana ia memahami hijrah. Bahwa hijrah itu bukan hanya mengganti penampilan.

Sekali lagi, tentu bukan hal yang salah jika seseorang hijrah dengan melakukan sunnah nabi yang sifatnya aksesoris. Namun, mana yang lebih unggul, apakah sunnah yang sifatnya aksesoris atau mengikuti sunnah Nabi yang bersifat ahwal?

Berhijrah dengan Gus Baha’

Fenomena para artis berhijrah (yang sifatnya aksesoris) tidak lepas dari dengan siapa mereka hijrah. Kebanyakan mereka hijrah dengan ustadz atau da’i yang memang lebih menonjolkan soal penampilan. Sunnah Nabi lebih diartikan tentang bagaimana penampilan Nabi saat itu, seperti memakai jubah dan berjenggot.

Tentu tidak salah. Akan tetapi, ada logika serampangan yang mereka pahami. Contohnya saja tentang jubah yang dianggap sebagai pakaian sunnah. Jika memakai jubah itu sunnah (dan memang itu sunnah), maka memakai pakaian selain jubah itu bukan sunnah. Padahal, ada makna yang lebih dalam mengapa Nabi memakai jubah. Jubah waktu itu adalah pakaian yang menjadi budaya orang Arab. Dan itu dipilih dan dipakai oleh Nabi sebagai penghormatan terhadap budaya Arab. Toh pakaian berupa jubah tersebut tidak menyalahi aturan Islam.

Jika itu logikanya, seharusnya memakai pakaian adat setempat juga dianggap sunnah asalkan tidak menyalahi aturan agama, seperti memakai sarung. Itu menjadi kesimpulan apa itu sunnah jika memahami logika Nabi Muhammad SAW.

Jadi, yang lebih penting dalam hal memahami sunnah Nabi bukan melihat penampilan Nabi saja. Lebih dari itu, harus juga ditekankan bagaimana logika nubuwwah Nabi Muhammad SAW. Dan itu menurut Gus Baha’ level sunnah-nya lebih tinggi.

Gus Baha’ mengatakan seseorang mengikuti sunnah Nabi dengan memakai jubah, maka nilai sunnahnya hanya senilai jubah. Berbeda jika seseorang mengikuti sunnah Nabi dalam hal berpikir dan juga berperilaku. Ini nilainya jauh lebih tinggi.

Maka tidak heran jika beberapa orang yang merasa sudah berhijrah serta sudah kembali ke Alquran dan Sunnah mudah sekali menyalahkan orang lain, bahkan mengkafirkan orang lain. Hal itu dikarena mereka tidak memahami sunnah Nabi secara mendalam. Pernahkah Nabi menyalahkan dan mengkafirkan orang lain yang sudah masuk Islam?

Bahkan diterangkan di dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah berkata kasar sekalipun pada orang yang membenci beliau.

Maka dari itu, membayangkan para artis hijrah bersama Gus Baha itu menyenangkan. Banyak sekali hal yang berbeda. Orang Islam menjadi lebih rileks. Mereka tidak lagi terlalu sensitif, mudah marah, dan mudah menyalahkan orang lain.

Dan yang pasti, para penggemar Gus Baha’ pun semakin senang. Bayangkan saja jika para artis hijrah bersama Gus Baha’. Pengajian Gus Baha’ di Youtube tidak hanya suara saja. Atau mentok ada video yang direkam dengan kamera kualitas rendah.

Akan banyak channel Youtube para artis yang merekam video pengajian dengan Gus Baha’. Videonya jelas. Audianya jernih. Ada artis yang pakai peci hitam yang dipakai sedikit ke belakang seperti Gus Baha’. Mereka tidak pakai celana cingkrang atau jubah karena mereka tahu memakai sarung juga tak kalah “sunnah.”

Dan akan ada nama artis yang disebut sebagai bahan gojlokan atau olok-olokan. Bukan lagi Kang Rukhin atau Kang Musthofa.

--
Oleh: Teguh Riyanto via pecihitam.org

TERJEMAHAN KITAB KASYIFATUS SAJA - SYARAH SAFINATUN NAJA

TERJEMAHAN KITAB KASYIFATUS SAJA  - SYARAH SAFINATUN NAJA | Pustaka Mampir Karya Syekh Muhammad Nawawi b...