Minggu, 02 Februari 2020

KECINTAAN GUS BAHA' PADA ILMU

KECINTAAN GUS BAHA' PADA ILMU 

Membahas keyakinan tentang hidup dan apa yang menyebabkan hidup, suatu saat istri Gus Baha’ sampai bercanda.

“Gus, njenengan bisa hidup itu saja sudah bagus.”
“Memangnya kenapa?”
“Kelihatannya orang yang paling bingung di dunia itu njenengan, tidak menggagas omongan orang lain.” 
{saya kira ini salah tulis, seharusnya YANG PALING TIDAK BINGUNG ATAU TIDAK PERNAH BINGUNG)-

Ya (istri saya itu benar), saya (akui) memang begitu. Makanya saya nikah nggak cerai itu sudah bagus, karena saya itu antara kitab dan istri, lebih suka kitab.Saya tidak pernah membelikan perhiasan ke istri harga jutaan. Tapi klo membelikan kitab, berulang kali. Kitabnya mahal, lemarinya juga mahal. 

(Istri saya menyindir), “Wah, masih punya dobelannya, Gus.” 
Saya itu punya kitab Minhajul Abidin-nya Imam Ghazaliy, tiap haulnya Bapak, saya beli 60 eksemplar, saya kasihkan kepada yang mengaji. Bidayatul Hidayah saya sampai lupa berapa jumlah yang saya beli. Wahhab banyak. Ihya’ punya empat penerbit. Saya memang punya kebiasaan beli beberapa penerbit, supaya kalau ada salah cetak bisa melihat terbitan yang lain. 

Pas membeli Musnad Ahmad harganya 2,8 juta, saya diejek juga sama istri, “Kalau yang ini tidak akan mungkin bisa membeli dobelannya, harganya sudah seperti setan).” 

Tapi ternyata saya beli dapat di Lebanon. Di Indonesia tidak ada. Dapat juga. Saya bilang, “Kata siapa saya tidak dapat dobelannya?” 
Itu karena saking senang saya dengan ilmu. Lha yang begini kok dilawan orang yang taqrib saja terbata-bata. Kan tidak imbang. 

JANGAN SOK SEDIKIT-SEDIKIT SUNNAH RASUL

Makanya kalau menjelaskan sunnah rasul itu yang komprehensif. Karena sunnah rasul itu macam-macam. Sebagaimana saya jelaskan kemarin:
Saya di Jakarta bertemu orang macam-macam. Pernah ada satu acara, yang datang kyai, ya biasa, pakai sarung, pakai celana. Itu pas mulai pegang mic, ada separuh hadirin keluar.
Alasan mereka, “Belum-belum kok nggak pakai sunnah rasul.”
Karena kyainya nggak cingkrang.
Ketika saya ditanya, “Pak Baha’, mengapa masih mendengarkan mereka? Mereka tidak mengikuti sunnah rasul (nggak cingkrang)?”
Kata saya begini, “Rasulullah itu hafal Al-Quran. Dan saya kebetulan saya hafal, jadi saya sudah mengikuti sunnah rasul. Jadi kalau Anda ingin sunnah rasul seperti saya, Anda harus hafal Al-Quran. Kalau cuma memotong celana itu gampang. Itu kan murah sekali dan mudah.” 
Itu membuat mereka berpikir. Ternyata mereka bilang sunnah rasul itu hanya jenggot, cingkrang, dan ... poligami biar ada tambahannya. 
Surbanan, jubahan itu sunnah rasul, tapi shalat pakai sarung saja dengan mengikatkannya di leher itu juga sunnah rasul. Bagaimanapun juga di antara sunnah rasul itu (kita lakukan) karena kita bisa membelinya. Kalau tidak mampu beli harus bagaimana?
Jabir di era thabi'in itu pernah shalat, bawa surban, bawa jubah, lalu beliau gantungkan, shalat hanya pakai sarung diikatkan leher. Thabi'in merasa janggal.
“Ya Jabir shahabat Rasulullah, bukankah surbanan itu sunnah Nabi?” 
Jabir menjelaskan, “Ya itu sunnah Nabi plus karena kalian bisa beli. Saya melakukan ini agar orang-orang bento seperti kalian tahu semua. (Jabir mulai menangis) Kafan orang mati rapat atau tidak?”
“Ya rapat.” Jawab thabiin.
“Ketika Sayyid Hamzah ahabbunnas ila rasulillah, kapundhut, kafannya tidak cukup. Ditutupkan kepala beliau, kaki nampak. Ditarik ke kaki, kepalanya nampak. Sekarang kau pakai pakaian lengkap.”
Lalu nampak sedikit-sedikit sunnah rasul. Sunnah rasul itu orang yang melakukan semua yang pernah dilakukan Nabi, termasuk Nabi pernah shalat dalam keadaan takut, pernah shalat tidak bisa wudlu, pernah shalat dalam tekanan, termasuk pernah shalat hanya memakai selambar pakaian.
Paham ya. Jadi macam2.
Karena itu sekarang misalnya shadaqah sunnah rasul. Ya itu karena kau mampu!
Termasuk sunnah rasul itu kau kelaparan sampai perutmu kau ganjal batu. Kau berani tidak? Tidak, ini fair saja. Berani tidak? 
Ujung-ujungnya kita bilang sunnah rasul itu yang asyik-asyik saja: Kalau kau shadaqah kan gagah! Sudah gagah, dipuji lagi. Pasti itu karena kau punya uang. 
Coba kau pilih sunnah rasul dikejar-kejar orang 10 tahun lalu kelaparan perut diganjal, tidak kunjung menang. Itu lakukan dulu 13 tahun. 
Poligamilah juga perlu diberi pertanyaan begitu. Sunnah rasul itu istri banyak. Iya, setelah istri pertama mati, orang semua tahu. Nabi SAW beristri banyak setelah Khadijah kapundhut atau masih hidup? Jawab saja! 
Sekarang pertanyaannya, orang2 yang poligami sekarang itu tidak tergesa-gesa, menunggu istrinya mati, ataukah tidak usah menunggu istri pertamanya mati? 
Kalau ingin poligami ya poligami saja, tidak usah bilang itu sunnah rasul. Karena konsekuensinya kalau kau bilang persis, ya persiskan dulu, istrimu itu suruh mati duluan. 
Kalau poligami, biasa saja menjawab ketika ditanya kenapa poligami. Jawab saja “memang ingin.” Sudah selesai, kan. Lha kenapa kok ingin? Ya karena punya uang. Karena kalau tidak punya uang, keinginan poligami itu pasti hilang.
Tapi nggak usah sok suci sedikit-sedikit sunnah rasul. Biasa sajalah. Kalau ingin amal, amal saja. Bagaimanapun juga zina itu buruk, bagusnya kawin. Jadi jujur. Itu sunnah rasul, jujur adalah sunnah rasul. Iya kan? Nabi SAW ngendikan nikah itu sederhana: kenapa orang kok nikah?
فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ
Bagaimanapun juga kalau sudah ingin tahu rasanya perempuan, kawinlah. Kalau ingin ya kawin, itu menjaga dari zina.
Nabi sederhana ngendika: pokoknya butuhnya nikah itu supaya tidak zina.
Tapi orang sekarang kan berlebihan. Sok paling sholeh: poligami memperbanyak umat Nabi, alasan begini begitu. Lha meski istrimu buruk rupa kan juga bisa produksi. Tapi kau nggak kuat mental kan kalau istrimu jelek. Lha iya, kalau tujuannya memperbanyak umat, coba pilih empat orang yang kau nikah itu yang fisiknya buruk semua. Tetap bisa kan produksi manusia. Tapi kau tetap memilih yang cantik-cantik.
Makanya sudah tidak usah berlebihan ya. Biasa saja meniru Nabi mengapa nikah, ya
أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ
Bagaimanapun juga menikah itu membuat tidak berzina.
Makanya kau yang hormat dengan istrimu, yang telah mencegahmu dari zina. Karena itu cintai istrimu yang benar.
Nah sebab tidak zina itu juga karena kau melarat. Itu juga harus kau syukuri, bagaimanapun juga sebabmu tidak berzina itu karena melarat.

JADI WALI JALUR MUDAH
Tapi lebih tinggi lagi punya uang terus tidak berzina. Itu langsung wali, perkaranya punya kesempatan kok tidak tidak melakukan. Karena tujuh golongan yang:
يُظِلُّهُمُ اللَّهُ في ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إلَّا ظِلُّهُ
Itu tidak ada orang melarat. Yang termasuk di dalamnya adalah lelaki ganteng, diajak perempuan cantik, menolak. Artinya syarat tidak berzina menjadi wali itu harus punya kesempatan. Tidak berzina saja juga sudah baik, tapi belum wali. Kalau punya kesempatan, kok menolak, itu wali. Padahal yang punya kesempatan orang kaya atau melarat? Kaya. Karena itu orang kaya itu mudah menjadi wali, tiap nggak jadi maksiat dia menjadi wali. Pokoknya usahakan tidak jadi, itu mudah jadi wali.
Kanjeng Nabi naik unta membaca:
سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ
Saat kau naik bus umum atau pribadi Kijang Innova, kau tidak bisa bikin hukum:"aku tidak membaca doa itu karena Nabi SAW membaca doa itu pas naik unta."
Hukum membaca doa itu tetap, soal kendaraan apa suatu saat berganti. Makanya orang yang sedikit-sedikit sunnah rasul itu juga ada bodohnya. Kalau mengikuti sunnah rasul ya membaca
سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا
saat kau naik unta saja.
Itu saja masih belum persis sunah rasul, karena naiknya harus di Mekkah. Kalau sudah di Mekkah, masih ada masalah karena untanya ternyata bukan untanya Kanjeng Nabi. Rusak dah! 
Makanya orang yang sedikit-sedikit sunnah rasul itu juga ada kelirunya. Tapi kau menyalahkannya juga bodoh, karena jadinya kau sekuler. Tapi jika kau imani terlalu juga nampak bodohnya wong sisi bodohnya juga benar2 banyak. 
Lama2 ada orang shadaqah jadi begini:
Sedekah sunnah rasul itu kurma, karena pada orang melarat, Nabi memberinya kurma. Jelas hadits shahih pemberian Nabi adalah kurma. Sekarang kau misalnya ada orang Indonesia kelaparan, kau bilang, "sebentar saya carikan kurma, beras itu bukan sunnah rasul. Kau ini mau buat orang kelaparan tambah giginya ngilu atau gimana? 
Nggak ada kan yang memaksakan sedekah kurma. Kau orang Indonesia sedekahnya beras atau uang.
Baju juga begitu. Nabi memberi baju jubah pada Uwais al Qarni. Lalu orang pendek kriting kerja kasar kau sedekahi jubah, karena Nabi memberi baju berupa jubah.
Jadi bilang sunnah rasul itu mbok ya agak dipikir to. Bagaimanapun juga secara aturan fiqih:
الحكم يدور مع علته وجودا وعدما
Hukum itu berputar tetap sesuai konteksnya.
Bukan berarti hukumny berubah. Tidak. Konteks itu tidak merubah hukum. Jadi hukum itu tidak pernah berubah, tapi yg bawaan zaman, tempat, itu tidak usah terlalu kau perdalam seperti di atas itu.
***
Sepenggal pengajian Gus Baha 

Silakan dikoreksi,
Korek Engkek

#SantriMbelinxsID
#NahdhotulUlama
#AhlusSunnahWalJamaahAnNahdhiyyah

WAFATNYA GUS SHOLAH DAN ISYARAH 2 MIMPI

WAFATNYA GUS SHOLAH DAN ISYARAH 2 MIMPI

Sebuah pesan whatsapp masuk dengan pertanyaan begitu tanggal 4 Januari 2020 M. Lalu Saya telepon pengirim pesan tersebut dan Saya tanya ADA APA?

Lalu Dia bercerita bahwa Dia bermimpi membersihkan makam keluarga Tebuireng dan disana bertemu dengan bapak Saya yang telah wafat tahun 2016 M lalu.  

Bapak bertanya "Apakah makam Salahuddin al Ayubi sudah dibersihkan".  Kebetulan bapak adalah termasuk akrab dengan Gus Sholah. 

Yang ditanya bapak bingung lalu bertanya  "Salahuddin al Ayubi niku Gus Sholah nopo bapak?" Bapak tidak menjawab, hanya tersenyum saja.

Lalu beberapa hari kemudian, istri bermimpi "Tebuireng kok rame sekali ya yah?" Saya diam tidak berani menjawab.

Belakangan, ternyata nama asli Gus Sholah adalah Salahuddin al Ayubi.

Selamat Jalan Mas. Semoga Allah menerima amal ibadah dan memaafkan semua dosa Panjenengan.

Source:FB Kyai Agus M Zakki
#SantriMbelinxsID
#NahdhotulUlama
#AhlusSunnahWalJamaahAnNahdhiyyah

MENGENAL SOSOK KH.SHOLAHUDIN WAHID ATAU GUS SHOLAH

MENGENAL SOSOK KH.SHOLAHUDIN WAHID ATAU GUS SHOLAH

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Sholahudin Wahid wafat, Minggu (2/2/2020) malam. Almarhum sebelumnya dirawat di di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

Gus Sholah merupakan putra ketiga dari 6 bersaudara pasangan KH. Wahid Hasyim dengan Sholichah. Beliau merupakan adik kandung mantan Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Seperti abahnya (ayahnya), Gus Sholah semasa hidup merupakan ulama', aktivis, politikus dan tokoh Hak Asasi Manusia.

Dihimpun dari berbagai sumber, masa sekolah dasar Gus Sholah ditempuh di Sulawesi. Selanjutnya jenjang sekolah menengah pertama ditempuh di SMP I Cikini. Jenjang berikutnya ditempuh di SMA Budi Utomo. Selepas pendidikan tingkat atas, ia melanjutkan pendidikannya ke Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan arsitektur.

Gus Sholah semasa hidup juga dikenal sebagai pengusaha. Terutama terlibat bidang konstruksi sebagaimana jurusan semasa kuliah. Aktivitas itu mengantarnya aktif di berbagai asosiasi seputar dunia konstruksi.

Beberapa jabatan pernah diembannya seperti Ketua DPD Ikatan Konsultan Indonesia/Inkindo DKI (1989-1990), Sekretaris Jenderal DPP Inkindo (1991-1994), dsb.

Sebagai intelektual tulisan Gus Sholah banyak ditemui di berbagai media massa nasional. Tulisannya kerap menyorotasi berbagai persoalan umat dan bangsa.

Adapun di Nahdlatul Ulama, Gus Sholah sebagai salah satu ketua PBNU periode 1999-2004.

Perjalanan KH Sholahudin Wahid, sosok yang lahir Jum’at 11 September 1942 di Jombang, berakhir setelah berpulang ke Pencipta, Minggu (2/2/2020) malam. Almarhum sebelumnya dirawat di di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

Kabar duka tersebut disampaikan puteranya yakni Ipang Wahid. Seperti yang dikutip dari akun twiternya. "Gus Sholah baru saja wafat, pada pukul 20:55. Mohon dimaafkan seluruh kesalahan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu..."

Sebelumnya, Gus Sholah sempat menjalani tindakan medis ablasi. Operasi itu dilakukan karena ada masalah pada selaput jantungnya.

Padahal, Gus Sholah sebelumnya telah sukses menjalani operasi untuk mengatasi gangguan irama jantung atau ablasi di rumah sakit. Setelah itu, Gus Sholah dibolehkan pulang.

Beberapa hari di rumah, tubuh Gus Sholah kembali lemas sehingga keluarga langsung membawanya kembali ke rumah sakit kembali hingga kini.

Ulama sepuh NU itu dirawat di rumah sakit sejak 31 Januari 2020.

 Sugeng tindak Gus

انالله وانا اليه راجعون

اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ
بِالْمَاء وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَس وَأَبْدِلْهُ
دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ
وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ
مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ.  
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا
وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثاَنَا.
 اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى
اْلِإسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى
اْلِإيْمَانِ. اَللَّهُمَّ لَاتََحْرِمْنَا أَجْرَهُ
وَلاَ تَُضِلَّنَا بَعْدَهُ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
أَمِِيْن يَا رَبَّ العَالَمِينَ*

له الفاتحة... 

Source: Laduni
#SantriMbelinxsID
#NahdhotulUlama
#AhlusSunnahWalJamaahAnNahdhiyyah

MAHAGURU PESANTREN: SYAICHONA CHOLIL BANGKALAN,MADURA

MAHAGURU PESANTREN: SYAICHONA CHOLIL BANGKALAN,MADURA

Bangkalan 1820, serupa dengan kota-kota lain di Madura—seperti Pamekasan, Sampang, dan Sumenep— kota Bangkalan berada di bawah kontrol Belanda yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal Van Der Capellen. Setiap harinya, bala tentara Belanda hilir-mudik di jalan-jalan mengawasi setiap aktivitas penduduk termasuk aktivitas perdagangan antar pedagang Madura dan Pasuruan yang datang melalui pelabuhan di Surabaya. Rakyat tunduk di bawah kontrol penjajah dan tak bisa berbuat banyak, bahkan Sultan Bangkalan II (1815–1847), penguasa lokal Bangkalan pada masa itu tak lebih hanya sebagai ‘pegawai’ raja negeri Belanda. (LPM Universitas Negeri Malang, 2007: 146). 

Sampai tahun 1820-an, belum terdengar nama ulama besar dari Madura yang mampu menerangi batin penduduk pulau garam tersebut sehingga banyak masyarakat Madura yang mengirim anak-anak mereka ke pondok pesantren di tanah Jawa dengan harapan sepulang nanti dapat mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat Madura.  Di tengah kegersangan hati para penduduk Bangkalan, pada hari Selasa, 14 Maret 1820 M / 11 Jumadil Akhir 1235 H, lahirlah seorang bayi mungil anak dari KH Abdul Latief adalah seorang kiai di Kampung Senenan, Kemayoran,  Bangkalan, Madura. Sang ayah memiliki silsilah yang tersambung sampai ke Syaikh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon, salah seorang dari sembilan wali yang menyebarkan Islam di wilayah Jawa Barat. Kakek dari KH Abdul Latief yaitu Muharrir masih memiliki hubungan darah dengan Sayyid Sulaiman yang merupakan cucu Sunan Gunung Jati Cirebon. 

Sejak kecil sang ayah juga memperkenalkan Cholil kecil dengan berbagai ritual Islam. Meski putranya masih belum paham dengan artinya, namun sang ayah kerap mengajak Cholil menghadiri acara seperti Diba’an yaitu membaca sejarah ringkas keluhuran dan keagungan Nabi Muhammad SAW dan keluarganya melalui gubahan puitis karya Syaikh Abdurrahman Ad-Diba’i. Diba’an merupakan kegiatan jamiyyah (dilaksanakan secara berjamaah) yang lazim dilaksanakan di kalangan pesantren maupun di kalangan masyarakat Jawa dan Madura. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada malam Jum’at, juga pada acara walimatul khitan (resepsi sunatan) dan walimatul urusy (resepsi pernikahan). Selain itu, sang ayah juga mengajarkan cara membaca Al-Qur’an.  KH Abdul Latief lalu mengirim putranya ke pesantren Langitan di Tuban yang termasyhur dengan ilmu tata bahasa Arabnya. Sang ayah lalu menitipkan putranya kepada KH Muhammad Nur pengasuh pesantren Langitan pada saat itu. Sang ayah memercayakan sang anak untuk nyantri kepada KH Muhammad Nurbukannya karena selain bagus, di sana juga turut lahir beberapa tokoh generasi pertama NU seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Syamsul Arifin (ayahanda KH As’ad Syamsul Arifin), dan KH Shiddiq (ayahanda KH Ahmad Shiddiq). 

Ketika Syaichona Cholil menjadi ulama besar, karisma dan namanya sangat dihormati di seluruh kalangan masyarakat Islam, khususnya kaum pesantren. Saat organisasi Nahdlatul Ulama (NU) akan didirikan, Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari dilanda kebimbangan yang luar biasa. Syaichona Cholil Bangkalan yang mampu merasakan keresahan KH Hasyim Asy’ari lalu mengutus santrinya, Kiai As’ad Syamsul Arifin kepada KH Hasyim Asy’ari. Kiai As’ad datang dua kali, pertama ia mengantarkan sebuah tongkat dan pesan satu ayat dari Al-Qur’an surah Thaha ayat 17-23, dan kedua ia mengantarkan sebuah tasbih dan amalan Yâ Jabbâr Yâ Qahhâr. 

Keresahan KH Hasyim Asy’ari reda berubah menjadi keyakinan untuk mendirikan organisasi NU. Itulah sekelumit kisah yang terdapat di dalam buku ini, betapa sosok Syaichona Cholil Bangkalan memiliki peran besar lahirnya NU, sebuah organisasi Islam terbesar di dunia saat ini. Cerita lahirnya NU yang berdiri atas restu Syaichona Cholil Bangkalan juga pernah diceritakan oleh Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan pada saat perayaan Harlah NU ke-87 di Pekalongan. Dalam ceritanya ia mengatakan bahwa menjelang berdirinya NU ulama-ulama Haromain mengutus KH Hasyim Asy’ari untuk pulang ke Indonesia agar menemui dua ulama besar untuk dimintai restu, pertama Habib Hasyim bin Umar bin Toha Bin Yahya Pekalongan, dan yang kedua yaitu Kiai Cholil Bangkalan. Buku mungil ini berisikan sekilas catatan hidup sosok mahaguru, lebih dari itu, buku ini kami harapkan bisa menumbuhkan semangat pendidikan di Indonesia. Biografi Mbah Cholil yang ditulis oleh Mokh. 

Syaiful Bakhri ini mencoba mendedah kehidupan sang tokoh; peristiwa per peristiwa dalam hidupnya, perasaannya, pemikirannya, cita-citanya, dan impiannya, yang dapat menjadi informasi penting bagi para pembaca. dengan data yang memang sangat terbatas, penulis juga menguatkannnya dengan mewawancarai beberapa narasumber yang memiliki cerita tentang Kiai Cholil. Minimnya literatur yang mengulas sosok Syaichona Cholil Bangkalan  membuat buku ini sangat penting karena menjadi sumber informasi yang sangat berharga menyusuri model pemikiran mereka di saat menghadapi perkembangan situasi dan tuntutan zamannya. buku ini memberikan secercah cahaya untuk menambah informasi tentang sosok Mbah Cholil. Terlebih, di dalam buku ini terdapat terjemahan lengkap kitab berbahasa Arab yang dikarang oleh Syaichona Cholil Bangkalan. As-silâh fî Bayân an-Nikâh dan kitab Al-matnu Syârif. 

Mbah Cholil adalah kreator intelektual. Karakternya yang penuh kezuhudan akan menjadi sosok model yang perlu digugu dan ditiru. Namun, cerita sejarahnya jarang sekali orang tahu, Syaichona Cholil Bangkalan sendiri adalah sosok yang penuh dengan ke-tawadu’-an. Saat KH Hasyim Asy’ari meminta restu, kalimat yang disampaikan kepada Mbah Hasyim As’ari oleh dua tokoh besar tersebut hampir sama: ”Laksanakan niatmu kalau mau membentuk wadah Ahlussunnah wal Jama’ah. Saya rela tapi tolong saya jangan ditulis“. Begitulah sosok Mbah Cholil, begitu rendah hati. Buku ini berjudul ”Mahaguru Pesantren: Syaichona Cholil Bangkalan”, sebuah biografi yang ditulis oleh Mokh. Syaiful Bakhri tentang seorang mahaguru yang sangat dihormati oleh masyarakat Muslim Indonesia khususnya di kalangan pesantren. Sang tokoh adalah seorang pendidik andal yang oleh penulis buku ini disebut telah mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, spiritual, sosial, dan keterampilan esoterik ke dalam pola asuh dan pendidikan di pesantrennya. 

Kisah-kisah di dalam buku ini kiranya mampu menginspirasi pembaca khususnya para pendidik di negeri ini. Pelajaran-pelajaran hidup yang terangkum di dalam buku ini kiranya akan menambah wawasan dan kekuatan mental kita dalam membangun karakter bangsa dan menciptakan pola pendidikan yang semakin baik lagi.  

Data Buku Judul Buku: Mahaguru Pesantren: Syaichona Cholil Bangkalan Kisah Perjalanan Hidup Ulama Legendaris KH. Cholil Bangkalan 
Penulis : Mokh. Syaiful Bakhri  
Penerbit : Emir (Erlangga Group)  Cetakan : Agustus, 2015 
Tebal : 200 Halaman 
Peresensi : Hijrah Ahmad, editor buku Tags: Mahaguru Pesantren: Syaichona Cholil Bangkalan

#SantriMbelinxsID
#NahdhotulUlama
#AhlusSunnahWalJamaahAnNahdhiyyah

CATATAN KUNJUNGAN GUS BAHA' KE BANGKALAN

CATATAN KUNJUNGAN GUS BAHA' KE BANGKALAN

Jum'at sore, 31 Januari, 2020 M

Gus Baha' dan rombongan langsung menuju makam Syaikhona Kholil di Martajasah. Pertama kali beliau melihat saya, beliau langsung tersenyum dan bertanya :

" Kok nikahnya jauh-jauh ke Yaman ? At'abta Man Ba'dak.. Kasian nanti kalo ada yang mau niru tapi nggak bisa.. Kalo dianggap sunnah gimana ? " 

Ingin saya menjawab :

" Bagi kulo.. Sejauh apapun jarak akan kulo tempuh demi doa dan barokah Guru Gus.. "

Tapi saya hanya tersenyum tak menjawab.. Saya sadar jawaban sebaik apapun pasti pada akhirnya akan dimentahkan oleh Gus Baha'. Saya hanya berfikir dalam hati dari mana beliau tau kabar pernikahan saya ? Bukannya beliau sama sekali nggak aktiv di dunia per-sosmed-an ? Belum sempat bertanya, beliau sudah dawuh :

" La wong istri saya ngikuti sampean di Instagram " 

Beliau lalu bertanya kepada saya :

" dimana tempat yang sepi orang disini ? "

Kami akhirnya mengantar beliau ke pojok kiri Masjid Syaikhona. Disana kami duduk sambil menunggu adzan Maghrib. Setelah sholat Maghrib kami berziarah bersama rombongan Gus Baha'. Ziarah selesai kami langsung menuju perumahan Kayangan, disana Gus Baha' bertemu dengan Tim Turots Syaikhona Kholil, Lembaga Investigasi karya-karya Syaikhona Kholil yang Alhamdulillah diisi oleh para dzurriah beliau. Di kesempatan itu ketua Tim kami Kak Utsman Hasan menyodorkan beberapa Manuskrip tulisan Syaikhona Kholil yang berhasil ditemukan oleh Tim. Salah satunya adalah Manuskrip Al-Quran kuno tulisan tangan salah satu santri Syaikhona yang dimaknai Gandul oleh Syaikhona. Di halaman terakhir Syaikhona memang memberi catatan kaki bahwa siapa saja yang membaca naskah Al-Quran ini dan menemukan kesalahan di dalam penulisannya, beliau sangat berharap agar segera dibenarkan. karena beliau sendiri mengakui banyak kekhilafan/kelalaian yang terjadi didalam penulisannya. 

Dan memang betul, saya dan anggota Tim yang lain menyaksikan sendiri bahwa beliau Gus Baha' sudah bisa menunjukkan salah satu dari kesalahan tersebut dengan hanya sekali membuka saja, beliau lalu mulai menunjukkan kesalahan yang lain baik min haitsul harakat atau huruf. 

beliau lantas berkata :

" Al-Quran ini keahlian saya.. Dengan sekali menyentuh saja saya sudah bisa tau Naskah Al-Quran yang ada salahnya atau tidak " 

" Nyetrum Gus ?" saya menimpali.

Beliau tertawa dan berkata :

" Iya betul nyetrum.. Kayak temen saya, meskipun dia buta tapi dia bisa tau bedanya cewek cantik sama nggak.. Pernah ada cewek cantik lewat dia bilang :

" cewek iki uaayu gus.. "

" loh kok ngerti.. Awakmu kan wuto ? "

" Aku iso ngrasakno Gus.. " 😂🤣

Entah keistimewaan yang diberikan kepada Gus Baha' itu dinamakan Kasyaf, Ilham atau karomah. Yang jelas menurut saya itu adalah Taufiq dan Inayah khusus yang dianugrahkan Allah kepada para ulama Ahlil Quran seperti beliau. 

Beliau juga bercerita bahwa beliau pernah mendapat Al-Quran tulisan Utsmani asli. Tulisannya kotak-kotak tanpa harokat dan titik, ketika sudah hampir menyerah bagaimana cara membacanya, Gus Baha' berdoa :

" Ya Allah.. Alat yang saya miliki sudah tidak cukup untuk membaca Mushaf ini.. Jadi sekarang saya memakai hak saya sebagai ahlul Quran.. Dengan hak saya sebagai Ahlul Quran tolong ajari saya gimana cara membacanya "

Setelah beliau berdoa seperti itu ndilalah tiba-tiba beliau bisa membaca Al-Quran tulisan Utsmani itu. 

Mungkin bagi kalian yang baru pertama kali mendengar Gus Baha' berkata seperti itu, kalian akan mengira bahwa beliau adalah sosok yang "angkuh" dan sombong.. Hakikatnya tidak seperti itu, bagi saya gaya yang dipakai Gus Baha' adalah salah satu bentuk "Idzharul Ilmi" : Tatkala seorang Alim menampakkan dan menonjolkan kealimannya ditengah-tengah zaman yang mana orang yang hanya bermodal caci-maki dan kata-kata kotor saja sudah bisa mendapat gelar ulama.

Bukankah Rasulullah Saw pernah bersabda :

" إذا ظهرت البدع في أمتي فعلى العالم أن يظهر علمه "

" ketika sudah banyak Bid'ah di antara ummatku.. Maka seorang Alim harus menampakkan kealimannya " 

Saya ingat, ketika sowan kepada beliau, Beliau pernah berpesan :

" Sekarang banyak Alumni-alumni pesantren yang sok Tawadhu'.. Nggak mau maju, nggak mau tampil.. Akibatnya sekarang yang punya panggung ya orang-orang gak berilmu itu.. Yang gak pernah mondok sama sekali malah kayak .... " 

(beliau lalu menyebut tokoh yang menurut beliau tidak berilmu tapi tetap saja dikasih panggung ) 

Selesai bertemu dengan Tim Turots, Gus Baha' langsung menuju lokasi pengajian PP. Syaichona Cholil. Di awal ngaji, ketika mengomentari kitab Isti'dad lil Maut karya Mbah Kholil, beliau sudah mengeluarkan joke-joke khasnya. 

" dulu ketika saya masih kecil.. Saya sering mendengar cerita kalo Mbah Kholil Nalqin Mayyit beliau biasanya dawuh :

" nanti kalo dateng malaikat nanya macem-macem bilang kamu masih nunggu saya ya .. " 

Ternyata di kitab ini Mbah Kholil mengajari cara menjawabnya.. Jadi saya agak kecewa.. " 😂🤣 (pengajian lengkapnya bisa kalian lihat di Yutub)

Pada akhirnya.. Menurut saya ke-viral-an Gus Baha' adalah sebuah anugrah yang wajib kita syukuri, wabil khusus bagi warga Nahdiyyin dan Qoum Pesantren. Barokah Yutub dan media lainnya, Ditengah Zaman penuh Fitnah ini kita masih bisa dengan mudah ngaji dan mencuri ilmu bergizi dari sosok Gus Baha' yang sangat jelas kualitas kealiman dan sanad keilmuannya.

Sehat selalu Gus Baha'.. Allah Yahfadhzak wa Yar'aak bikamali ri'ayatih.

* Ismael Amin Kholil, Bangkalan, 2 Februari, 2020.
*Lora Ismael adalah Cicit dari Syaichona Cholil Bangkalan

#SantriMbelinxsID
#NahdhotulUlama
#AhlusSunnahWalJamaahAnNahdhiyyah

Sabtu, 01 Februari 2020

JANGAN REMEHKAN GURU NGAJI KALIAN YANG DI KAMPUNG

JANGAN REMEHKAN GURU NGAJI KALIAN YANG DI KAMPUNG
 
Dhawuh HABIB LUTHFI BIN YAHYA

Sore itu saat lumayan lama menunggu istirahat beliau, saya tertidur dan agak lambat mengikuti kajian beliau dengan para tamu yang datang.

Namun di sela-sela itu beliau menyinggung amar ma'ruf nahi munkar.

Beliau berkata " Orang yang amar makruf nahi munkar itu bukan (hanya) mereka yang berteriak-teriak di atas mimbar dan bukan(hanya) mereka orang-orang yang melarang perzinahan, menutup tempat minuman keras dan menutup tempat prostitusi tapi orang yg amar makruf nahi munkar yg sesungguhnya adalah mereka para guru ngaji di musholla2, guru madrasah2 di kampung yg mengajarkan pendidikan sholat.

Kenapa mereka di sebut orang yg amar makruf nahi munkar yg sesungguhnya ?
Karena ALLAH berfirman:

ان الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر

Jadi merekalah orang-orang yang mengajarkan shalat yg menegakkan amar makruf nahi munkar yang sesungguhnya.

Pesan untuk para guru dan murid:

1.hormatilah guru kalian di kampung janganlah sombong kepada mereka atau bahkan meremehkan mereka karena ilmu mereka biasa-biasa saja, karena apa yg kalian peroleh di hari ini bersumber dari mereka.

2. Untuk para guru di desa-desa atau madrasa ingat kalian adalah ujung tombak amar makruf nahi munkar yg sesungguhnya dan kalian akan termasuk

كنتم خير امة اخرجت للناس تأمرون الناس بالمعروف وتنهون عن المنكر

Dan ini adalah tanggung jawab yg sangat besar dan pekerjaan yg sangat mulia.
Begitu jugak sebaliknya jika di abaikan maka kalian akan di pertanggung jawabkan kelak di akhirat nabi berkata:

كلكم راع وكلكم مسؤول عن راعيته

Disadur dari M. Anas Sq
#SantriMbelinxsID
#NahdhotulUlama
#AhlusSunnahWalJamaahAnNahdhiyyah

GUS BAHA' : KETURUNAN ULAMA HARUSNYA SEDIH

GUS BAHA' : KETURUNAN ULAMA HARUSNYA SEDIH
.
"Orang itu kalo keturunan ulama atau wali, dia seharusnya tidak bangga, tapi justru sedih dan terbebani. Sedih jika akhlak, prilaku, dan pencapaiannya tidak sama dengan mbah-mbahnya."
.
Gus Baha' seakan ingin menjelaskan kepada tamunya di sore itu yang kebanyakan adalah para Gus dan lora, bahwa nasab mulia itu bukan untuk dibuat bangga-bangga-an, bukan hanya dapat ditunggangi untuk mendapat rasa hormat manusia kebanyakan, lebih dari itu semua nasab mulia adalah sebuah beban dan tanggung jawab, sebuah pelecut diri untuk mengikuti tindak-jejak para leluhur yang merupakan wali-wali Allah itu. .
Beliau lalu mengambil sebuah kitab, Kitab Fawaidul Mukhtaroh  kumpulan kalam dan fawaid Habib Zain Bin Smith, beliau meminta Yek Shodiq untuk membacakan sebuah kisah dalam kitab itu:
.
"Suatu ketika ada golongan para Sayyid sedang berkumpul membaca kitab المشرع الراوي, kitab manaqib para Habaib Ba'alawy. Kala itu ada seorang Baduwi yang kebetulan ikut menyimak sejak awal. Ketika pembacaan kitab selesai, Baduwi itu bertanya:
.
"Mereka yang dibaca manaqibnya ini keluarga siapa?"
.
"Mereka adalah buyut-buyut kami," jawab para sayyid.
.
"Alhamdulillah mereka bukan buyut-buyut saya," Baduwi itu menimpali.
.
Para Sayyid itu kaget lalu berkata:
.
"Jika mereka buyutmu, itu adalah sebuah anugrah untukmu."
.
"Tidak. Justru jika mereka adalah kakek buyut saya, saya akan merasa sangat malu karena amal perbuatan saya sangat jauh dibandingkan amal perbuatan mereka." .
Gus Baha lalu mengomentari kisah itu:
.
"Jadi gak enak to anaknya kiai? Misalnya ada orang baca sejarahnya Syaikhona Kholil, kita (yang bukan keturunan beliau) senyum-senyum aja, gak beban, gak harus niru, kan gak cucunya."
.
Beliau tertawa, sedangkan kami yang menjadi target "sindiran" itu hanya bisa tersenyum malu. Tapi itu yang saya suka dari Gus Baha', beliau selalu mempunyai cara yang khas dan unik dalam menyampaikan sebuah pesan, tanpa ada kesan menyakiti atau menggurui
.
"Kalian keturunan ulama harus begini. Harus begitu."
.
Gus Baha' justru lebih memilih menyampaikan sebuah cerita dengan hikmah yang sangat dalam

Oleh Ismael Amin Kholil, Cicit Syaikhona Kholil Bangkalan
#SantriMbelinxsID
#NahdhotulUlama
#AhlusSunnahWalJamaahAnNahdhiyyah

TERJEMAHAN KITAB KASYIFATUS SAJA - SYARAH SAFINATUN NAJA

TERJEMAHAN KITAB KASYIFATUS SAJA  - SYARAH SAFINATUN NAJA | Pustaka Mampir Karya Syekh Muhammad Nawawi b...