Jumat, 21 Februari 2020

HUKUM MENGKONSUMSI KEPITING

HUKUM MENGKONSUMSI KEPITING

Tidak dapat dipungkiri, kepiting merupakan makanan yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Di samping rasanya yang lezat, makanan laut yang satu ini mengandung beragam gizi penting, meliputi: energi, protein, lemak, kalsium, fosfor, vitamin A, vitamin B1, dan kolesterol. Selain itu, kepiting juga mengandung asam folat, vitamin B kompleks, mmega-3, serta berbagai mineral. Kepiting dalam fiqih dikenal dengan istilah “al-hayawan al-barma’i", yaitu binatang yang dapat hidup di darat dan di laut, sebagaimana katak, penyu, dan buaya. Karenanya, para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengonsumsi binatang yang kaya kolesterol ini. (Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, Juz 4, halaman 2799).

Pertama, ulama mazhab Hanafi dan Syafi’i menegaskan, mengonsumsi kepiting hukumnya haram, sebab termasuk kategori khaba’its (sesuatu yang menjijikkan).  Ulama mazhab Hanafi mengharamkan kepiting, karena menurut mereka, binatang laut yang halal dikonsumsi hanya ikan semata. Sedangkan binatang lain selain ikan hukumnya haram, walaupun hidup di laut. Imam Ibnu Abidin menerangkan:

 وَمَا عَدَا أَنْوَاعُ السَّمَكِ مِنْ نَحْوِ إِنْسَانِ الْمَاءِ وَخِنْزِيْرِهِ خَبِيْثٌ فَبَقِيَ دَاخِلًا تَحْتَ التَّحْرِيْمِ. وَحَدِيْثُ (هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ وَالْحِلُّ مَيْتَتُهُ) الْمُرَادُ مِنْهُ السَّمَكُ "
Dan selain berbagai macam ikan, seperti manusia laut dan babi laut, adalah menjijikkan dan masuk kategori haram. Sedangkan hadits; (Laut itu suci airnya dan halal bangkainya), maksudnya adalah ikan." (Lihat: Ibnu Abidin, Raddul Muhtar Alad Durril Mukhtar, juz 6, halaman 307.  Imam At Thahawi dalam kitab Mukhtashar Ikhtilafil Ulama menyebutkan:

 وَلَا يُؤْكَلُ شَيْءٌ مِنْ حَيَوَانِ الْبَحْرِ إِلَّا السَّمَكَ

"Dan binatang laut dalam bentuk apa pun tidak boleh dimakan kecuali ikan." (Lihat: At Thahawi, Mukhtashar Ikhtilafil Ulama, juz 3, halaman 214). Sama dengan mazhab Hanafi, kitab-kitab mazhab Syafi’i pun juga secara tegas menyebutkan keharaman mengonsumsi kepiting. Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ menuliskan: 
وَعَدَّ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَإِمَامُ الْحَرَمَيْنِ مِنْ هَذَا الضَّرْبِ الضِّفْدَعَ وَالسَّرَطَانَ، وَهُمَا مُحَرَّمَانِ عَلَى الْمَذْهَبِ الصَّحِيْحِ الْمَنْصُوْصِ، وَبِهِ قَطَعَ الْجُمْهُوْرُ 

 Syekh Abu Hamid dan Imam al-Haramain memasukkan katak dan kepiting ke dalam kategori binatang yang dapat hidup di dua tempat. Dua binatang tersebut diharamkan menurut pendapat yang shahih dan tercatat dalam mazhab. Dan dengan hukum haram ini, mayoritas ulama mazhab memutuskan. (Lihat: Imam Nawawi, Al-Majmu’, juz 9, halaman 30).  Imam Ad Dumairi berkata:
 يَحْرُمُ أَكْلُهُ لِاسْتِخْبَائِهِ كَالصَّدَفِ، قَالَ الرَّافِعِي : ولِمَا فِيْهِ مِنَ الضَّرَرِ

 "Haram memakan kepiting karena ia selalu menyelinap (bersembunyi) seperti kerang. Imam Rafi’i berkata: Dan karena ia mengandung bahaya. (Lihat: Ad Dumairi, Hayatul Hayawan al-Kubra, juz 1, halaman 391). Kedua, menurut mazhab Maliki dan mazhab Hanbali, kepiting halal dikonsumsi. Seorang ulama bermazhab Maliki bernama Ibnu Abdil Bar menyebutkan: 
  وَصَيْدُ البَحْرِ كُلُّهُ حَلَالٌ إِلَّا أَنَّ مَالِكاً يَكْرَهُ خِنْزِيْرَ الْمَاءِ لِاسْمِهِ وَكَذَلِكَ كَلْبُ الْمَاءِ عِنْدَهُ وَلَا بَأْسَ بِأَكْلِ السَّرَطَانِ وَالسُّلَحْفَاةِ وَالضِّفْدَعِ 

Dan binatang buruan laut semuanya halal, hanya saja imam Malik memakruhkan babi laut karena namanya, begitu pula anjing laut, menurutnya. Dan tidak haram memakan kepiting, penyu, dan katak. (Lihat: Ibnu Abdil Bar, Al-Kafi, juz 1, halaman 187).

Senada dengan ulama mazhab Maliki, para ulama mazhab Hanbali juga menghalalkan kepiting. Ibnu Muflih menuturkan:
    وَعَنْهُ – أَيْ عَنْ أَحْمَدَ - فِي السَّرَطَانِ وَسَائِرِ الْبَحْرِيْ : أَنَّهُ يَحِلُّ بِلَا ذَكَاةٍ؛ لِأَنَّ السَّرَطَانَ لَا دَمَ فِيْهِ 
Dan dari imam Ahmad tentang hukum kepiting dan berbagai binatang laut: Ia halal sekalipun tidak disembelih, sebab kepiting tidak memiliki darah (mengalir). (Lihat: Ibnu Muflih, Al-Mubdi’, juz 9, halaman 214). Sedangkan dalam kitab Al-Mughni, Ibnu Qudamah menjelaskan:
 كُلُّ مَا يَعِيْشُ فِي الْبَرِّ مِنْ دَوَابِّ الْبَحْرِ لَا يَحِلُّ بِغَيْرِ ذَكَاةٍ كَطَيْرِ الْمَاءِ وَالسُّلَحْفَاةِ وَكَلْبِ الْمَاءِ إِلَّا مَا لَا دَمَ فِيْهِ كَالسَّرَطَانِ فَإِنَّهُ يُبَاحُ بِغَيْرِ ذَكَاةٍ 

Setiap apa yang (dapat) hidup di daratan berupa binatang melata laut itu tidak halal, tanpa disembelih (terlebih dahulu), seperti burung laut, penyu, dan anjing laut. Kecuali binatang yang tidak memiliki darah, seperti kepiting, maka boleh dimakan tanpa disembelih. (Lihat: Ibnu Qudamah, Al-Mughni, juz 9, halaman 337) Pada tahun 2002, Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa tentang hukum kepiting. Dalam fatwa tersebut diputuskan bahwa kepiting halal dikonsumsi sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia. Fatwa ini didasarkan pada hasil temuan mereka yang menyebutkan bahwa kepiting merupakan binatang air, baik di air laut maupun di air awar, dan bukan binatang yang hidup di dua alam; di laut dan di darat.  Dari paparan di atas, dapat disimpulkan, ulama berbeda pendapat tentang hukum mengonsumsi kepiting. Ulama mazhab Hanafi dan Syafi’i mengharamkannya, sementara ulama mazhab Maliki dan Hanbali menghalalkannya. Adapun Majelis Ulama Indonesia juga menghalalkan kepiting.  Artinya, para pembaca yang budiman disuguhi dua pendapat berbeda tentang hukum mengonsumsi kepiting; halal dan haram. Bagi orang yang ingin berhati-hati dalam masalah hukum agama, ia bisa memilih pendapat yang mengharamkannya. Dan baginya, berbagai alternatif makanan lain yang kandungan gizi dan vitaminnya tidak kalah dari kepiting, seperti udang, cumi-cumi dan berbagai ikan laut lainnya. Sedangkan bagi pecinta kepiting, ia bisa mengikuti pendapat ulama yang menghalalkannya, sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatannya. Wallahu A’lam.     

https://islam.nu.or.id/post/read/104682/ragam-pendapat-ulama-soal-hukum-mengonsumsi-kepiting

Kamis, 13 Februari 2020

MACAM-MACAM TALAK YANG HARUS DIWASPADAI OLEH SUAMI

MACAM-MACAM TALAK YANG HARUS DIWASPADAI OLEH SUAMI

MANUSKRIP TAHLIL BERUSIA LEBIH 200 TAHUN, INI SAKSI TRADISI

MANUSKRIP TAHLIL BERUSIA LEBIH 200 TAHUN, INI SAKSI TRADISI

Biasanya para kiai NU kalau ditanya tahlilan dimulai dari kapan? Mereka akan menjawab "mulai wali songo". Demikian pula ketika ditanya susunan kalimat tahlil itu dari siapa? Mereka menjawab "wali songo". Jawaban tersebut ada benarnya.

“Karena kami telah menemukan manuskrip tahlil dari kitab peninggalan mbah Kiai Haji Moch Ilyas (Penarip Mojokerto) yang berasal dari Kesesi Pekalongan dalam kitab tulisan tangan dari kertas kulit yang usianya lebih dari 200 tahun,” kata Kiai Muhammad Rofi'i Ismail, Mojokerto, Jawa Timur pada akun facebooknya.

Dijelaskannya, tertulis "Ratib kang dilampahake kiai pondok Tegalsari (Ponorogo)" yang berdiri pada 1722 M. Kalimat-kalimatnya persis dengan yang ada sekarang termasuk sholawatnya yang tidak pernah kami temukan dari kitab-kitab Mu'tabaroh (kita yang diakui para ulama untuk dipelajari di Pesantren, red).

“Hanya saja ayat-ayat Al-Qur'an nya lebih banyak 2 kali lipat. Mungkin yang ada sekarang ini adalah ringkasan dan pada akhirnya ada doa untuk arwah. Semoga ini bermanfaat fiddini waddunya wal akhirah,” tuturnya, pada ngopibareng.id, Selasa (23/1/2018).

Kelaziman di Indonesia, sebagaian besar umat Islam mengamalkan tradisi tahlilan. Khususnya, terkait dengan meninggalnya seseorang sebagai doa dari keluarga. Hal itu, terjadi khususnya di Pulau Jawa yang tak lepas dari kebiasaan tahlilan, yang kemudian menjadi tradisi kaum Muslimin di negeri ini. (adi)


AHKAMUL FUQAHA, SOLUSI PROBLEMATIKA AKTUAL HUKUM ISLAM


AHKAMUL FUQAHA, SOLUSI PROBLEMATIKA AKTUAL HUKUM ISLAM

Buku ini merangkum dokumen khusus dan eksklusif dari Bahtsul Masail NU yang telah diputuskan melalui Muktamar, Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU sejak tahun 1926 sampai dengan tahun 2015.

Semua sumber rujukan yang dijadikan daftar pengambilan hukum ditulis dengan huruf Arab bersyakal (masykul) diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan diberi catatan kaki, sehingga bisa dimengerti secara luas dan mempermudah penelusuran pada sumber aslinya.

Disamping itu, juga ditampilkan dua model daftar isi di halaman depan, daftar isi urut sesuai muktamnar, mulai muktamar pertama muktamar sampai Jombang tahun 2015. Sedangkan di halaman akhir, daftar isinya diklasifikasi seperti bab haji sendiri, bab nikah sendiri dan seterusnya, jadi para pembaca akan lebih mudah dalam mencari kategori masalah yang diinginkan.

“Dari sekian ilmu agama, fiqih dianggap paling penting di lingkungan NU. Sebab, fiqih merupakan petunjuk bagi seluruh perilaku dan penjelas apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Fiqih merupakan tuntunan praktis mempraktekkan agama dalam berbagai bidang kehidupan, dari soal beribadah hingga berpolitik”, (KH. Miftahul Ahyar, Rois Aam PBNU).

“Keputusan yang dihasilkan NU melalui Muktamar dan Munas ini memiliki kekuatan hukum dan bisa dijadikan rujukan, karena merupakan hasil istimbath jama’i yang memiliki otoritas tertinggi di organisasi Nahdlatul Ulama. Para ulama dalam forum bahtsul masail telah menjadikan kutubul mu’tabarah yang diakui kualitas dan validitasnya sebagai rujukan, sehingga produk yang dihadirkan sangat otoritatif dan layak menjadi rujukan bersama”, (Prof. DR. KH. Said Aqil Siraj, Ketua Umum PBNU).

Data buku :
Judul : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam
Tebal : 1.360 halaman
Ukuran : 16 x 24 cm
Info : https://wa.me/6281325276424

081325276424


Rabu, 12 Februari 2020

HUKUM SHOLAT JUM'AH KURANG DARI 40 ORANG

HUKUM SHOLAT JUM'AH KURANG DARI 40 ORANG 

(مسألة: ج): المذهب عدم صحة الجمعة بمن لم يكمل فيهم العدد، واختار بعض الأصحاب جوازها بأقل من أربعين تقليداً للقائل به، 

Menurut Madzhab Syafi'i tidak sah sholat Jum'at dengan hitungan kurang dari 40 orang. Dan sebagian Ash-habus Syafi'iyyah memilih pada boleh nya sholat Jum'at dengan hitungan kurang dari 40 dengan taqlid pada pendapat yang membolehkannya. Masalah hitungan jama'ah dalam sholat Jum'at itu ulama' berbeda-beda pendapat hingga sampai 25 pendapat.

Namun pendapat yang paling mu'tamad adalah 40. Menurut Abu Yusuf dan Muhammad yang di ceritakan oleh Awza'i dan Abi Nashir adalah 4 orang sah. Menurut Ibnu Hazm 2 orang cukup seperti jema'ah biasa.. [ Bughyah bab salat jum'at ]. 
-------------------------------------------------------------------

ثم قال الشيخ سالم الحضري في كتابه المذكورة نمرة 21 ان للشافعي رحمهالله تعالى فب العدد الذي تنعقد به الجمعة اربعة اقوال قول معتمد وهو الجديد وهو كونهم اربعين بالشروط المذكورة , وثلاثة اقوال في المذهب القديم ضعيفة احدها اربعة احدهم الامام والثاني ثلاثة احدهم الامام والثالث اثنى عشر احدهم الامام , فعلى العاقل الطالب ما عند الله تعالى من ثوابه ورضاه ان لايترك الجمعة ما نأتي فعلها على واحد من هذه الاقوال الاربعة ولكن اذا لم تعلم الجمعة انها متوفرة فيها الشروط على القول الاول وهو القول الجديد فيسن اعادة الظهر بعدها احتياطا فرارا من خلاف من منعها بدون اربعين اهـ . رسالة الجمعة 
[ Risalah Jum'ah Halaman 5 ] 

Berkata As-syaikh Salim Al-Hudlori dalam kitabnya hal.21 :Dalam Madzhab Syafi’i mengenai jumlah yang menjadi ketentuan sholat Jum’at ada empat Qoul, 
yang mu’tamad adalah Qoul Jadid mengharuskan jumlah jamaah sholat Jum’at 40 orang. 
Tiga Qoul lain adalah Qoul Qodim dan hukumnya dlo’if yaitu : 

- 4 orang salah satunya imam 
- 3 orang salah satunya imam 
- 12 orang salah satunya imam 

Bagi orang ‘Aqil yang mencari ridlo ALLAH hendaknya tidak meninggalkan sholat Jum’at dengan cara menjalankan salah satu dari empat Qoul yang telah disebutkan. Tetapi jika tidak tahu/ yaqin apakah sholat Jum’at nya memenuhi syarat Qoul pertama maka di sunnahkan mengulang sholat Dhuhur, untuk berhati-hati dan menghindar dari dari ulama’ yang melarang sholat Jum’at kurang dari 40 orang.

Dalam Qoul Qodimnya Imam Syafi'i disebutkan boleh shalat jum'at dengan 4 orang saja, dan Qoul Qodim tersebut boleh diikuti/ diamalkan karena Qoul tersebut telah dikuatkan oleh AL ASHHABUS SYAFI'I yaitu Imam Al-Muzaniy, Imam Ibnu Al-Mundzir, dan Imam As Suyuthiy. Fihris Ianah 2/58-59 dan Bughyah Al-Mmustarsyidin halaman 81

قوله أى غير الإمام الشافعي أى باعتبار مذهبه الجديد فلا ينافي أن له قولين قديمين في العدد أيضا أحدهما أقلهم أربعة حكاه عنه صاحب التلخيص وحكاه في شرح المهذب واختاره من أصحابه المزني كما نقله الأذرعي في القوت وكفى به سلفا في ترجيحه فإنه من كبار أصحاب الشافعي ورواة كتبه الجديدة وقد رجحه أيضا أبو بكر بن المنذر في الأشراف كما نقله النووي في شرح المهذب ثاني القولين اثنا عشر وهل يجوز تقليد أحد هذين القولين الجواب نعم فإنه قول للإمام نصره بعض أصحابه ورجحه وقولهم القديم لا يعمل به محله مالم يعضده الأصحاب ويرجحوه وإلا صار راجحا من هذه الحيثية وإن كان مرجوحا من حيث نسبته للإمام وقال السيوطي كثيرا ما يقول أصحابنا بتقليد أبي حنيفة في هذه المسئلة وهو إختياري إذ هو قول للشافعي قام الدليل على رجحانه إه وحينئذ تقليد أحد هذه القولين أولى من تقليد أبي حنيفة فتنبه وقد ألفت رسالة تتعلق بجواز العمل بالقول القديم للإمام الشافعي رضي الله عنه في صحة الجمعة بأربعة وبغير ذلك فانظرها إن شئت. إعانة الطالبين ٢/٥٨-٥٩ 

Dalam kasus di atas menurut imam Al Bulqiniy harus shalat Dhuhur, akan tetapi kalau sholat Jum'at karena taqlid pada Imam yang memperboleh kurang dari 40 orang jga boleh dan lebih baik lagi bila sholat Jum'at kemudian disertai dengan shalat Dhuhur. Bahkan menurut sebagian Ulama, takutlah meninggalkan sholat Jum'at walaupun kurang dari 40 orang karena sholat Jum'at bagian dari rahmat ALLAH dan pelebur dosa dalam seminggu. :

.وسئل البلقيني عن أهل قرية لا يبلغ عددهم أربعين يصلون الجمعة أو الظهر فأجاب رحمه الله يصلون الظهر على مذهب الشافعي وقد أجاز جمع من العلماء أن يصلون الجمعة وهو قوي فإذا قلدوا أى جميعهم من قال هذه المقالة فإنهم يصلون الجمعة وإن احتاطوا فصلوا الجمعة ثم الظهر كان حسنا، والذي يظهر عدم اشتراط تقليد جميعهم إذا كان المقلد بفتح اللام يقول باكتفائه في الجمعة. وقال بعضهم إعلم أن أمر الجمعة عظيم وهي نعمة جسيمة إمتن الله بها على عباده فهي من خصائصنا جعلها الله محط رحمته ومطهرة لأثام الأسبوع ولشدة إعتناء السلف الصالح بها كانوا يبكرون لها على السرج فاحذر أن تتهاون بها مسافرا أومقيما ولو مع دون أربعين بتقليد والله يهدي من يشاء إلى صراط مستقيم.إعانة الطالبين ٢/٥٨-٥٩ 

PISS KTB
#SantriMbelinxsID
#NahdhotulUlama
#AhlusSunnahWalJamaahAnNahdhiyyah

Selasa, 11 Februari 2020

BOLEHKAH MEMASANG KAWAT GIGI?

BOLEHKAH MEMASANG KAWAT GIGI? 

Assalamu’alaikum wr. Wb 
Redaksi Bahtsul Masail NU yang saya hormati. Sekarang ini kita sering mendapati anak-anak muda dan juga remaja memasang behel di gigi. Kalau ditanya, mereka memiliki keperluan bermacam-macam atas pemasangan behel di giginya. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. 

Wassalamu’alaikum wr. wb (Ciganjur/M Yunus) 

Jawaban Assalamu’alaikum wr. wb. Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah swt di mana pun berada. Perihal pemasangan behel di gigi untuk sebuah kepentingan tertentu seperti alasan publik pada lazimnya merapikan posisi gigi, sangat baik. Behel sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kawat. Sampai di sini, para ulama tidak berbeda pendapat. Asy-Syaukani menyebutkan sebagai berikut.

 أقول: الأصل الحل كما يفيده قوله عزوجل: {هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ} [البقرة: 29] ، وقوله: {قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ} [الأعراف: 32] ، فلا ينقل عن هذا الأصل المدلول عليه بعموم الكتاب العزيز إلا ما خصه دليل ولم يخص الدليل إلا الأكل والشرب في آنية الذهب والتحلي بالذهب للرجال فالواجب الاقتصار على هذا الناقل وعدم القول بما لا دليل عليه بما هو خلاف الدليل ولم يرد غير هذا فتحريم الاستعمال على العموم قول بلا دليل وما كان ربك نسيا. 

Hemat kami, pada prinsipnya semua itu boleh seperti dikatakan firman Allah “Dia yang menciptakan segala apa yang di bumi untuk kalian,” (Al-Baqarah ayat 29) dan “Katakan, siapakah orang yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya, dan rezeki yang baik-baik,” (Al-A’raf ayat 32). 

Belum ada nukilan makna umumnya lafal ayat Al-Quran di atas dari prinsip ini kecuali dalil lain yang membatasinya. Sementara ini tidak ada yang membatasi dalil di atas kecuali hadits yang melarang untuk makan dan minum di wadah terbuat dari emas maupun perak, dan perhiasan emas bagi pria. Karenanya, kita harus membatasi diri pada nukilan di atas; dan tidak perlu berpendapat tanpa dalil yang justru bertentangan dengan dalil yang sudah ada. Sedangkan dalam masalah ini, belum ada dalil lain selain dalil di atas. 

Karenanya, pengharaman terhadap penggunaan perhiasan itu berdasarkan umumnya dalil di atas, merupakan pendapat tanpa dasar. Tuhan sendiri bukan pelupa. (Lihat Asy-Syaukani, As-Sailul Jarrar Al-Mutadaffiq ‘ala Hada’iqil Azhar, Daru Ibnu Hazm). Adapun hadits larangan makan dan minum pakai wadah emas dan perak yang dimaksud Asy-Syaukani ialah sebagai berikut.

قَوْله صلى الله عليه وسلم: "لَا تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ اَلذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَلَا تَأْكُلُوا فِي صِحَافِها، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدنيا، ولكم في الآخرة". متفق عليه 

Jangan kamu minum di wadah emas dan perak. Jangan juga makan di piring yang terbuat daripadanya. Semua itu (emas dan perak) untuk mereka (orang musyrik) di dunia dan untuk kamu di akhirat. (HR Bukhari dan Muslim). 

Lalu bagaimana hukumnya menggunakan emas atau perak sebagai perhiasan? Sampai di sini, para ulama berbeda pendapat. Asy-Syaukani mengambil posisi sebagai berikut.

 وأما قوله: "والتجمل بها" فوجهه أن ذلك مما أحله الله ولم يحرمه كما لم يحرم استعمال الذهب والفضة في غير الأكل والشرب والتحلي بالذهب فالكل حلال طلق أباحه الذي خلقه لعباده لا يسأل عما يفعل وهم يسألون

Adapun “berhias dengan emas” mesti dilihat bahwa itu termasuk yang dibolehkan oleh Allah dan tidak diharamkan. Persis seperti Allah tidak mengharamkan penggunaan emas dan perak untuk selain makan dan minum. Dia tidak mengharamkan berhias dengan emas (untuk kalangan wanita). Semua itu halal dan bebas yang Allah izinkan hamba-Nya untuk menikmati ciptaan-Nya. Dia tidak ditanya atas apa yang diperbuat-Nya. Sementara merekalah yang akan dimintakan pertanggungjawaban. (Lihat Asy-Syaukani, As-Sailul Jarrar Al-Mutadaffiq ‘ala Hada’iqil Azhar, Daru Ibnu Hazm). 

Berikut ini pandangan madzhab Hanbali dan Syafi’i perihal emas atau perak yang sudah disepuh.

 وقال الحنابلة مثل الشافعية: يحرم المضبب بضبة كثيرة من الذهب أو الفضة، لحاجة أو غيرها. ولا يباح اليسير من الذهب إلا للضرورة كأنف الذهب وما ربط به الأسنان، ويباح اليسير من الفضة؛ لحاجة الناس إليه

Seperti kalangan Syafi’iyah, madzhab Hanbali berpendapat, haram menggunakan logam campuran emas dan perak di mana keduanya lebih dominan daripada logam jenis lainnya baik untuk suatu hajat dan lainnya. Meskipun sedikit, haram menggunakan emas kecuali karena darurat seperti membuat hidung dari emas dan untuk mengikat gigi. Sedangkan penggunaan sedikit perak diperbolehkan untuk suatu kepentingan. (Lihat Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, Juz 10). 

Sementara untuk kepentingan perhiasan dari emas, Madzhab Hanbali memberikan rukhshah (keringanan).

 وَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ يَجُوزُ لِلذَّكَرِ أَنْ يَتَّخِذَ قَبِيعَةَ سَيْفِهِ مِنَ الذَّهَبِ؛ لأَِنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ لَهُ سَيْفٌ فِيهِ سَبَائِكُ مِنْ ذَهَبٍ، وَأَيْضًا فَإِنَّ عُثْمَانَ بْنَ حُنَيْفٍ كَانَ فِي سَيْفِهِ مِسْمَارٌ مِنْ ذَهَبٍ، ذَكَرَهُمَا أَحْمَدُ لِذَا رَخَّصَ فِي ذَلِكَ، وَإِنْ كَانَ لَهُ رِوَايَةٌ أُخْرَى بِتَحْرِيمِ ذَلِكَ مِثْل الْجُمْهُورِ

Madzhab Hanbali berpendapat, boleh bagi kalangan pria untuk membuat gagang pedang dari emas karena Sayyidina Umar bin Khattab memiliki pedang dengan leburan logam emas. Ustman bin Hunaif juga memiliki pedang yang pakunya terbuat dari emas.Riwayat ini disebutkan Imam Ahmad. Karenanya ia memberikan rukhshah pada masalah ini kendati ada sebuah riwayat yang mengharamkannya seperti yang disebutkan jumhur ulama. (Lihat Kementerian Waqaf dan Agama Kuwait, Mausu’atu Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, juz 45, cetakan kementerian agama setempat). 

Sementara salah seorang pemuka Madzhab Hanbali Ibnu Qudamah mengutip riwayat sejumlah salafus saleh yang memakai emas dan jenis logam lainnya untuk kepentingan gigi mereka.

 وروى الأثرم عن أبي جمرة الضبعي وموسى بن طلحة وأبي رافع وثابت البناني واسماعيل بن زيد بن ثابت والمغيرة بن عبد الله أنهم شدوا أسنانهم بالذهب وما عدا ذلك من الذهب 

Al-Atsram meriwayatkan dari Abu Jamroh, Musa bin Thalhah, Abu Rofi’, Tsabit Al-Banani, Ismail bin Zaid bin Tsabit, dan Mughiroh bin Abdullah bahwa mereka menguatkan gigi mereka dengan emas dan logam jenis selain emas. (Lihat Ibnu Qudamah, Asy-Syarhul Kabir alal matnil Muqni’, Darul Kitab Al-Arabi). 

Adapun sebagian orang mengharamkan pengubahan ciptaan Allah berdasarkan surat ar-Rum ayat 30 berikut.

 فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ 

Tegakkan wajahmu pada agama yang lurus, sebuah fithrah Allah yang ditetapkannya. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah itu. Itulah agama lurus. Tetapi kebanyakan orang tidak tahu. (Ar-Rum ayat 30). 

Menurut hemat kami, pertama penggunaan dalil ini untuk mengharamkan pasang behel, cangkok jantung, menambal (maaf) sumbing, atau cukur rambut misalnya, tidak mengena. Pasalnya “fithrah Allah” yang dimaksud oleh para ulama tafsir, bukan tampilan fisik manusia, tetapi Islam. Allah tidak mengubah Islam setiap anak yang lahir ke dunia. Tetapi orang tua yang mengubah Islam setiap anak menjadi yahudi, Nashrani, atau Majusi. Kedua, pemakaian “La tabdila li khalqillah” (Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah itu) sebagai dalil pengharaman, mengandung problematik. 

Karena dalil ini tidak bicara secara spesifik sehingga bisa menyasar apa saja. Semacam pasal "karet" yang liar. Dengan dalil ini segala sesuatu bisa jadi haram seperti membuat lemari dari kayu pohon, menambal (maaf) bibir sumbing sejak lahir, dan atau memotong tali pusat bayi. Para pembaca yang budiman, khususnya saudara Yunus, perihal pasang behel/kawat di gigi sejauh ini tidak ada dalil yang mengharamkan. Terlebih lagi kawat yang dipasang di gigi terbuat dari bukan logam emas atau pun perak. Pemasangannya pun berada di bawah pantauan dokter ahli. Sejauh tidak menimbulkan mudharat, pemasangan kawat di gigi untuk kepentingan kerapian gigi misalnya, tidak masalah. 

Demikian jawaban yang dapat kami utarakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Bagi mereka yang ingin memasang kawat di gigi, kami sarankan penanganannya berada di bawah dokter ahli. Untuk meminimalkan kemungkinan mudharat. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca. Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq Wassalamu’alaikum wr. Wb (Alhafiz Kurniawan) 

#SantriMbelinxsID
#NahdhotulUlama

Senin, 10 Februari 2020

MENGENAL LEBIH DEKAT KH HABIBULLOH ZAINI LIRBOYO: TELADAN KESAHAJAAN DAN PENCINTA ILMU

MENGENAL LEBIH DEKAT KH HABIBULLOH ZAINI LIRBOYO: TELADAN KESAHAJAAN DAN PENCINTA ILMU

KH Habibulloh Zaini Lirboyo. Beliau lahir pada bulan Agustus 1954. Putra kedua dari pasangan KH Zaini Munawwir Krapyak dan Nyai Qomariyah Abdul Karim Lirboyo. Kiai Zaini dan Nyai Qomariyyah memiliki 4 putra. Putra pertama wafat saat masih kecil. Kemudian putra kedua, almarhum H. Thoha Zaini, bapak saya. Putra ketiga adalah KH Habibulloh Zaini, dan putra bungsunya adalah almarhum Hasan Zaini. 

Sejak kecil Kiai Habibulloh belajar di bawah pengampuan orang tua dan para gurunya di Pesantren Lirboyo, Kediri. Setamat dari Lirboyo, beliau melanjutkan nyantri di Pesantren Tanggir, Tuban. Usai nyantri di Pesantren Tanggir, beliau pulang kembali ke Lirboyo, menikah dan melanjutkan pengabdiannya sebagai dzurriyyah Lirboyo, mengajar dan mengasuh santri. 

Kiai Habibulloh beristrikan Nyai Sa'adah dan memiliki 4 orang putra-putri. Saya memanggil keempat sepupu saya itu dengan panggilan Bulek Lia Hikmatul Maula Yasser Lanaa Umuronaa, Lek A. Khuwarizmi Ijtabahu Robbuhu Khuwaarizmiy Ahmad, Bulek Arina Maqsuroh Fil Khiyam Arina M. Filkhiyam, Lek A. Himi Biknada.

Kiai Habibulloh Zaini adalah sosok pecinta ilmu yang bersahaja, tekun dan telaten. Pada masa kepengasuhan Kiai Idris Marzuki, Kiai Habibulloh mendapatkan amanah untuk menjadi kepala Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, Pesantren Lirboyo. Dan saat ini beliau adalah salah satu pengasuh Pesantren tersebut.

Kiai Habibulloh termasuk sosok yang jarang bepergian. Di waktu sehatnya, aktifitas utamanya adalah mengaji dan mengasuh santri. Karena ndalemnya yang berada tepat di depan Masjid Lawang Songo Lirboyo, maka tiap kali ngimami, beliau cukup ke masjid dengan melawati "bancik" yang menghubungkan ndalem beliau dengan masjid Lawang Songo. (Bancik adalah semacam media seukuruan ubin yang digunakan untuk menghubungkan antar bangunan. Bancik banyak ditemui di Pesantren Lirboyo yang terbukti efektif sebagai media yang menghubungkan antara bangunan di area pesantren yang total luasnya lebih dari 5 hektar itu).

*BERSAHAJA DAN MENCINTAI ILMU*
Kiai Habibulloh adalah sosok yang bersahaja dan mencintai ilmu. Kebersahajaan beliau dapat dilihat dari sikap hidupnya sehari-hari. Dari cara berpakaian, cara dahar, cara berkomunikasi dengan orang-orang yang ditemuinya. Beliau juga selalu berhati-hati dalam persoalan fiqh, akhlak dan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Kesederhanaan dan akhlak beliau sungguh tampak saat berdekatan dengan beliau. Ketawadluan beliau juga akan dapat terlihat dari melihat sikap tubuh beliau kala beliau berada satu majelis dengan kiai-kiai yang lain. 

Saya teringat saat beliau mengantar saya ke Kajen, ketika saya menikah. Waktu itu, bapak saya sudah wafat. Karena beliau adalah satu-satunya adek kandung bapak saya yang masih ada, maka beliaulah yang membimbing dan masrahke saya ke Kajen. Sikap tawadlu' beliau terlihat pada saat momen dahar bersama kiai-kiai yang lain di ndalem Kiai Sahal Mahfudh. Walau di Lirboyo beliau dihormati oleh ribuan santri, tapi ketika berada dalam kesempatan dahar siang di Kajen, Kiai Habibulloh justru berinisiatif mengambilkan nasi (nanduki) kiai-kiai lain yang berusia lebih lanjut. 

Tawadlu' beliau juga sungguh terlihat saat berada dalam majelis ngaji Kamis Legian yang diselenggarakan oleh pengasuh pesantren Lirboyo untuk para alumni pada tahun-tahun terakhir ini. Kala badan dalam kondisi sehat, Kiai Habibulloh, bersama dengan dzurriyyah yang lain selalu tampak ikut mengaji, menyimak dengan takzim pengajian kitab al Hikam Kamis Legi yang diampu KH Anwar Mansur tersebut. 

Pribadi beliau yang pendiam, akan terlihat berbeda saat "madep dampar", sebuah istilah yang lazim digunakan di Lirboyo untuk aktifitas mengaji Kitab Kuning untuk para santri. Saya teringat saat beliau sempat pulih dari gerah panjangnya. Ketika saya sowan dan bertanya kepada beliau: 

"Pak Abib sampun mulai ngaji malih?"

"Iyo", jawab beliau dengan senyum memenuhi wajahnya. Saat itu saya dapat mengerti, "madep dampar" adalah kebahagian beliau. 

Ketika kecil, dalam kenangan saya, beliau adalah salah satu dzurriyyah Lirboyo yang kuat dalam mbalah kitab. Beliau memiliki kebiasaan ngaji posonan sejak pertengahan bulan Rojab hingga pertengahan bulan Ramadlan, dengan mengkhatamkan satu kitab besar. Di saat sehatnya, jadwal ngaji posonan beliau adalah pagi hingga Dzuhur. Ba'da dzuhur hingga ba'da Ashar. Kemudian Ba'da Tarawih hingga menjelang tengah malam. Suara beliau pun tetap ajeg tiap kali membacakan kitab-kitab tersebut untuk para santri.

Entahlah ... airmata saya selalu bercucuran setiapkali mengingat beliau. Saat ini beliau sedang gerah dan dirawat di sebuah rumah sakit di Surabaya. Banyak kenangan semasa kecil hingga saya dewasa yang memenuhi benak saya. Setelah bapak saya wafat, beliau adalah orang tua saya. Beliau juga yang menjadi salah satu kangenè ati, tiapkali saya pulang kampung ke Lirboyo. 

Banyak uswah dari akhlak mulia beliau yang menjadikan beliau pribadi istimewa. Baik bagi saya pribadi maupun insya Alloh bagi santri-santri Lirboyo. Semoga beliau pinaringan panjang umur, pinaringan kesembuhan dan kesehatan. Alfatihah ... 

Kajen, 10 Februari 2020
Ditulis oleh: Tutik N. Janah binti Thoha Zaini.
https://m.facebook.com/profile.php?id=100008775300697
https://alif.id/read/author/tutik-n-jannah/

TERJEMAHAN KITAB KASYIFATUS SAJA - SYARAH SAFINATUN NAJA

TERJEMAHAN KITAB KASYIFATUS SAJA  - SYARAH SAFINATUN NAJA | Pustaka Mampir Karya Syekh Muhammad Nawawi b...